Menyusuri Jejak Dakwah di Masjid Al-Abror Sidoarjo
KH Muljadi kemudian menemukan tempat perlindungan di wilayah Desa Suko, Sidoarjo. Di daerah yang kala itu masih berupa kawasan perdagangan dan perairan, beliau memulai kehidupan baru sambil berdagang dan berdakwah kepada masyarakat.
Amsari menuturkan bahwa Mbah Muljadi setiap hari menggunakan perahu untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain.
“Beliau berdakwah sambil berdagang. Di sekitar pasar saat itu ada bangunan kosong yang terbengkalai. Tempat itu dibersihkan dan pondasinya dimanfaatkan kembali untuk membangun masjid sederhana yang menjadi cikal bakal Masjid Al-Abror sekarang,” katanya.
Masjid sederhana tersebut kemudian berkembang menjadi pusat kegiatan masyarakat. Selain digunakan untuk salat berjamaah, masjid juga menjadi tempat mengaji, berdiskusi, serta pelatihan membatik yang kala itu menjadi aktivitas ekonomi warga sekitar.
Dalam perjuangannya membangun masjid, KH Muljadi tidak sendiri. Ia dibantu sejumlah tokoh agama lainnya seperti Mbah Muso dan istrinya Mbah Badrijah dari Madura serta Mbah Sayyid Salim dari Cirebon. Kehadiran mereka turut memperkuat syiar Islam di wilayah yang kemudian berkembang menjadi pusat perdagangan penting di kawasan delta Sungai Brantas.
Bagi Tim Gowes VISI.NEWS, kisah tersebut menunjukkan bahwa masjid pada masa lalu bukan hanya menjadi pusat ibadah, melainkan juga pusat pendidikan, ekonomi, dan pemberdayaan masyarakat.
Salah seorang anggota Tim Gowes VISI.NEWS, Edi Sudjono, mengaku terkesan dengan nilai sejarah yang tersimpan di Masjid Al-Abror.
“Masjid Al-Abror mengajarkan bahwa peradaban besar selalu lahir dari semangat dakwah, pendidikan, dan kerja keras masyarakat. Dari tempat yang sederhana ini lahir pusat aktivitas keagamaan yang berpengaruh terhadap perkembangan Sidoarjo hingga sekarang,” ujar Edi.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!