Menyusuri Jejak Dakwah di Masjid Al-Abror Sidoarjo

ED
Selasa, 23 Juni 2026 | 19:10 WIB
Bagikan
/

VISI.NEWS | SIDOARJO – Perjalanan Tim Gowes VISI.NEWS menyusuri kota-kota bersejarah di Jawa Timur membawa rombongan singgah di salah satu situs penting penyebaran Islam di Kota Delta, yakni Masjid Jami Al-Abror yang terletak di Jalan Kauman, Pekauman, Sidoarjo. Masjid yang berdiri sejak tahun 1678 ini bukan sekadar tempat ibadah, tetapi juga menjadi saksi perjalanan panjang dakwah Islam dan sejarah lahirnya Kabupaten Sidoarjo.

Begitu memasuki kawasan Kauman, Selasa (24/6/2026), yang berada di jantung kota lama Sidoarjo, suasana religius langsung terasa. Bangunan masjid yang kini tampak megah dan terawat menyimpan kisah perjuangan para ulama pada masa lalu. Tim Gowes VISI.NEWS disambut hangat oleh Takmir Masjid Al-Abror, Amsari, yang menjelaskan berbagai catatan sejarah mengenai masjid tertua di Sidoarjo tersebut.

Menurut Amsari, Masjid Al-Abror memiliki hubungan erat dengan awal penyebaran Islam di wilayah yang dahulu dikenal sebagai Kabupaten Sidokare.

“Masjid ini didirikan oleh KH Muljadi atau yang dikenal masyarakat sebagai Mbah Muljadi pada tahun 1678. Beliau merupakan ulama yang memiliki peran besar dalam pengembangan Islam di kawasan Sidoarjo,” ujarnya.

Berdasarkan dokumen sejarah yang disusun pengurus masjid pada tahun 2022, KH Muljadi berasal dari Mataram dan termasuk ulama yang selamat dari tragedi pembantaian ribuan ulama pada masa pemerintahan Amangkurat I. Saat terjadi gejolak politik dan pemberontakan Trunojoyo pada abad ke-17, banyak ulama menjadi sasaran kecurigaan penguasa sehingga terpaksa melarikan diri demi keselamatan.

KH Muljadi kemudian menemukan tempat perlindungan di wilayah Desa Suko, Sidoarjo. Di daerah yang kala itu masih berupa kawasan perdagangan dan perairan, beliau memulai kehidupan baru sambil berdagang dan berdakwah kepada masyarakat.

Amsari menuturkan bahwa Mbah Muljadi setiap hari menggunakan perahu untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain.

“Beliau berdakwah sambil berdagang. Di sekitar pasar saat itu ada bangunan kosong yang terbengkalai. Tempat itu dibersihkan dan pondasinya dimanfaatkan kembali untuk membangun masjid sederhana yang menjadi cikal bakal Masjid Al-Abror sekarang,” katanya.

Masjid sederhana tersebut kemudian berkembang menjadi pusat kegiatan masyarakat. Selain digunakan untuk salat berjamaah, masjid juga menjadi tempat mengaji, berdiskusi, serta pelatihan membatik yang kala itu menjadi aktivitas ekonomi warga sekitar.

Dalam perjuangannya membangun masjid, KH Muljadi tidak sendiri. Ia dibantu sejumlah tokoh agama lainnya seperti Mbah Muso dan istrinya Mbah Badrijah dari Madura serta Mbah Sayyid Salim dari Cirebon. Kehadiran mereka turut memperkuat syiar Islam di wilayah yang kemudian berkembang menjadi pusat perdagangan penting di kawasan delta Sungai Brantas.

Bagi Tim Gowes VISI.NEWS, kisah tersebut menunjukkan bahwa masjid pada masa lalu bukan hanya menjadi pusat ibadah, melainkan juga pusat pendidikan, ekonomi, dan pemberdayaan masyarakat.

Salah seorang anggota Tim Gowes VISI.NEWS, Edi Sudjono, mengaku terkesan dengan nilai sejarah yang tersimpan di Masjid Al-Abror.

“Masjid Al-Abror mengajarkan bahwa peradaban besar selalu lahir dari semangat dakwah, pendidikan, dan kerja keras masyarakat. Dari tempat yang sederhana ini lahir pusat aktivitas keagamaan yang berpengaruh terhadap perkembangan Sidoarjo hingga sekarang,” ujar Edi.

Menurutnya, keberadaan masjid yang telah berusia lebih dari tiga abad tersebut menjadi bukti bahwa jejak sejarah Islam di Jawa Timur sangat kaya dan masih terawat dengan baik oleh masyarakat.

“Perjalanan gowes kali ini memberikan pengalaman berharga. Kami tidak hanya melihat bangunan tua, tetapi juga menyaksikan bagaimana warisan para ulama tetap hidup melalui aktivitas keagamaan yang berlangsung setiap hari,” tambahnya.

Meski telah mengalami renovasi besar pada tahun 2006 dan 2009, sejumlah peninggalan asli masih dipertahankan sebagai bukti sejarah. Amsari menjelaskan, setidaknya terdapat tiga bagian yang masih menjadi saksi masa awal berdirinya masjid, yakni sumur tua, gerbang masjid, dan kompleks makam para pendiri yang berada di bagian belakang.

Yang paling menarik perhatian Tim Gowes VISI.NEWS adalah sumur tua peninggalan Mbah Muljadi. Sumur yang telah berusia ratusan tahun itu hingga kini masih digunakan oleh jamaah.

“Airnya masih sangat deras dan dimanfaatkan untuk minum, mandi, maupun berwudu. Ini menjadi salah satu peninggalan bersejarah yang tetap berfungsi sampai sekarang,” jelas Amsari.

Usai berkeliling area masjid dan makam para pendiri, rombongan menyaksikan aktivitas masyarakat yang silih berganti datang untuk beribadah, berziarah, maupun sekadar beristirahat. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa Masjid Al-Abror masih menjadi pusat kehidupan sosial-keagamaan warga Sidoarjo.

Saat ini pengelolaan masjid dilakukan oleh masyarakat setempat melalui takmir yang banyak berasal dari kalangan Nahdlatul Ulama Kabupaten Sidoarjo. Berbagai kegiatan rutin terus berlangsung, mulai dari pengajian kitab kuning, majelis taklim, hingga pendidikan Madrasah Diniyah Awaliyah bagi anak-anak.

Napak tilas yang didukung Komite Sepeda Indonesia (KSI) Kabupaten Bandung, Kakanwil Ditjen Pemasyarakatan Sumatera Barat, PT. Pupuk Kujang, Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PCNU Kabupaten Bandung, Diskominfo Kabupaten Bandung, Bapenda, PT. BPR Kerta Raharja, dan Perumda Tirta Raharja ini menjadi pengingat bahwa sejarah bukan sekadar catatan masa lalu. Di balik setiap perjalanan, lorong, dan bangunan kuno terdapat nilai-nilai perjuangan, toleransi, serta kebijaksanaan yang tetap relevan bagi kehidupan masa kini.***

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.