Menteri Agama Bagikan Bibit Pohon Buah di CFD Jakarta
“Di Islam ada konsep khilafah yang harus dipahami manusia sebagai pelestari alam raya. Ada ajaran Tri Hita Karana dalam Hindu, Laudato Si’dalam Katolik, dan banyak nilai sejenis dalam ajaran agama lain,” paparnya.
Dalam kesempatan itu, Menag juga menyampaikan rencana penilaian gedung-gedung Kemenag, pesantren, dan masjid yang paling cantik, bersih, dan hijau dalam rangka Hari Amal Bhakti Kemenag mendatang. Inisiatif ini menjadi bagian dari implementasi nyata gerakan ekoteologi.
“Nanti kita akan menunjukkan, gedung Kemenag mana yang paling cantik, paling hijau, paling indah. Pesantrennya mana yang paling cantik dan paling indah,” jelasnya.
Kegiatan CFD diikuti sekitar 1.500 peserta dari berbagai unsur: penyuluh agama, majelis taklim, madrasah, Kantor Urusan Agama (KUA), Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (FKDT), ASN Kemenag, serta masyarakat umum. Para peserta berjalan santai dari titik kumpul di Kantor Kemenag menuju Bundaran HI.
Selain pesan lingkungan, Menag juga menyampaikan makna hijrah sebagai tonggak peradaban inklusif. Ia menegaskan bahwa peringatan Tahun Baru Islam tidak hanya milik umat Islam, tetapi mencerminkan nilai kebebasan, keadilan, dan persaudaraan.
“Kenapa bukan kelahiran Nabi Muhammad yang dijadikan awal penanggalan Islam? Kenapa bukan turunnya Al-Qur’an atau Isra Mi’raj? Semua peristiwa itu luar biasa, tapi hanya berlaku khusus bagi umat Islam. Sedangkan hijrah dijadikan tonggak, karena memiliki nilai yang lebih universal,” jelasnya.
Direktur Jenderal Bimas Islam Abu Rokhmad menyebut kegiatan ini merupakan bagian dari dakwah sosial yang membumi dan terbuka bagi semua lapisan masyarakat.
“Kami ingin dakwah Islam hadir secara terbuka, ramah, dan relevan dengan perkembangan zaman. Melalui Peaceful Muharam, masyarakat diajak menebar cinta, kerukunan, dan kepedulian lingkungan,” pungkasnya.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!