Menlu AS Umumkan Perang Usai, Konflik Iran Masih Membara
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio./visi.news/apakabr.
VISI.NEWS | BANDUNG - Pernyataan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (Menlu AS), Marco Rubio, yang menyebut perang melawan Iran telah berakhir memunculkan perdebatan baru di tengah masih berlanjutnya eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah. Di satu sisi, Washington menganggap tujuan utama operasi militernya telah tercapai. Namun di sisi lain, serangan yang terus terjadi menunjukkan situasi keamanan masih jauh dari kata stabil.
Dalam keterangannya di hadapan Komite Urusan Luar Negeri DPR AS, Rubio menegaskan bahwa Operation Epic Fury telah selesai sehingga Amerika Serikat tidak lagi menjalankan serangan berkelanjutan ke wilayah Iran. Pemerintah AS menilai keberhasilan operasi tersebut terlihat dari rusaknya kemampuan pertahanan Iran, berkurangnya peluncur rudal, menipisnya persediaan drone, hingga lumpuhnya sebagian kekuatan udara dan laut konvensional negara tersebut.
“Kami tidak lagi melakukan serangan berkelanjutan di dalam Iran untuk melemahkan militer mereka, karena Epic Fury sudah berakhir,” kata Rubio dikutip padalam keterangannya, Kamis (4/6/2026).
Meski demikian, klaim kemenangan tersebut langsung mendapat tantangan dari kalangan Partai Demokrat. Mereka menilai perang belum berakhir karena ancaman terhadap kepentingan dan personel Amerika Serikat di kawasan masih berlangsung.
Kritik semakin menguat setelah Iran melancarkan serangan terhadap sejumlah negara sekutu Washington, termasuk serangan ke bandara Kuwait yang dilaporkan menimbulkan korban jiwa dan puluhan korban luka.
Situasi ini menunjukkan adanya perbedaan definisi mengenai makna berakhirnya perang. Bagi pemerintah AS, keberhasilan militer dapat diukur dari tercapainya target operasi. Namun bagi para pengkritiknya, konflik belum selesai selama serangan balasan masih terjadi dan risiko keamanan tetap mengancam kawasan.
Selain persoalan militer, dinamika diplomatik juga masih berjalan. Rubio mengungkapkan bahwa pembahasan mengenai program nuklir Iran masih berlangsung dan belum menghasilkan kesepakatan final.
Salah satu isu utama adalah tuntutan Washington agar Teheran menyerahkan stok uranium yang diperkaya hingga mendekati tingkat senjata, membatasi aktivitas nuklir, serta membuka kembali Selat Hormuz.
Selat Hormuz sendiri memiliki arti strategis bagi perdagangan energi dunia. Penutupan jalur tersebut berpotensi memengaruhi distribusi minyak dan gas global serta meningkatkan ketidakpastian ekonomi internasional.
Di tengah belum tercapainya kesepakatan nuklir dan masih berlangsungnya serangan di kawasan, pernyataan bahwa perang telah berakhir tampaknya masih akan menjadi perdebatan. Kondisi di lapangan menunjukkan bahwa meski operasi militer utama disebut selesai, ketegangan antara Washington dan Teheran masih menyisakan tantangan besar bagi stabilitas Timur Tengah.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!