Mengulik Tradisi Titip Doa kepada Jemaah Haji
VISI.NEWS | BANDUNG - Bagi umat Islam, ibadah haji adalah puncak perjalanan spiritual. Tak heran jika ibadah ini menempati posisi istimewa di hati masyarakat, khususnya di Indonesia. Dalam beberapa komunitas etnis, musim haji bahkan menjadi momen budaya yang besar, penuh dengan ragam keyakinan, sikap, dan ekspresi. Salah satu contohnya adalah masyarakat Madura. Di sana, gelar 'haji' bukan sekadar penanda ibadah, melainkan juga simbol status sosial yang terhormat.
Dikutip dari laman resmi Kemenag, Selasa (17/6/2025), di mata orang Madura, gelar 'Haji' membawa bobot simbolik yang luar biasa. Orang yang sudah menunaikan ibadah haji dihormati sebagai sosok saleh, bijaksana, dan dipercaya. Tak jarang, gelar ini menjadi modal sosial yang kuat, baik dalam kepemimpinan lokal maupun dalam ranah politik. Tradisi ini tentu tidak hanya berlaku di Madura. Masyarakat Betawi, Bugis, Minangkabau, dan etnis lainnya juga memandang gelar ini dengan penuh penghormatan.
Di balik penghormatan terhadap jemaah haji tersebut, ada satu kebiasaan menarik yang mengakar kuat di berbagai daerah, yaitu tradisi 'titip doa'. Masyarakat kerap meminta jemaah haji untuk mendoakan harapan-harapan mereka selama di tanah suci. Padahal, secara teologis, setiap orang bisa langsung berdoa kepada Allah. Lalu, mengapa harus titip? Karena selama ibadah haji, ada momen dan tempat yang diyakini mustajab untuk berdoa, seperti di Multazam, Raudhah, Arafah, dan lokasi sakral lainnya.
Dari berbagai wawancara dengan jemaah, termasuk pengalaman pribadi, bentuk-bentuk doa titipan ini sangat beragam. Ada yang memohon kelancaran rezeki, umur panjang, keturunan, jodoh, kesuksesan usaha, karier yang baik, dan masih banyak lagi. Intinya, mereka berharap doa-doa itu disampaikan kepada Allah dengan menyebut nama si penitip agar permohonannya dikabulkan.
Salah satu kisah menarik datang dari seorang petugas kesehatan haji, dr. Eddy M., seorang spesialis penyakit dalam asal Jawa Tengah. Ia menunjukkan sebuah buku kecil yang penuh dengan daftar titipan doa dari keluarga, teman, kerabat, dan tetangga. Setiap berada di tempat yang dianggap mustajab, ia dengan tekun membacakan satu per satu doa tersebut. Akibatnya, ia sering tertinggal dari rombongan, terutama saat berada di area Multazam dan Hijir Ismail di Masjidil Haram.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!