Mengulik Tradisi Titip Doa kepada Jemaah Haji
Karena sering tertinggal, teman-temannya menyarankan agar tidak semua doa dibacakan setiap saat, apalagi kalau sudah pernah disampaikan. Toh, Allah Maha Mendengar. Salah satu kawa satu ronbongan bahkan berkelakar, “Pak Dokter, doanya singkat saja: ‘Ya Allah, kabulkanlah semua doa kami sebagaimana terlampir.’” Candaan itu tentu mengundang tawa, tapi sekaligus menyiratkan keyakinan bahwa Allah Maha Mengetahui, bahkan terhadap doa-doa yang hanya tertulis dalam lembaran kertas.
Cerita serupa juga datang dari Syamsul Huda, jemaah asal Pasuruan, yang saya temui di Hotel Aziziyah, kamar 216. Ia mengaku menerima banyak titipan doa dari keluarga, tetangga, dan teman-teman. Semua doa itu ia bacakan, khususnya saat di Arafah di bukit Jabal Rahmah dengan membawa payung, karena Arafah diyakini sebagai tempat dan waktu paling mustajab.
“Saya bacakan satu per satu, Pak. Kasihan mereka yang titip, semua punya harapan. Saya merasa harus memanfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya. Meskipun di Arafah panas banget, membawa payung saja panasnya tembus hingga besi yang saya pegang,” ujarnya sambil terkekeh.
Huda, begitu ia biasa dipanggil, juga bercerita tentang titipan-titipan unik yang ia terima. Salah satunya adalah permintaan membawa tiga kerikil dari tanah haram yang dipercaya untuk kepentingan 'jimat' atau pengobatan tertentu. Ada pula yang memintanya membeli serbuk kurma muda (ruthaf), yang diyakini dapat membantu mempercepat kehamilan.
Tradisi titip doa ini ternyata tidak hanya menjadi praktik spiritual, tetapi juga mencerminkan jalinan relasi sosial yang kuat di antara masyarakat. Saat seseorang menitipkan doa, itu bukan sekadar permintaan spiritual, tapi juga bentuk pengakuan atas kedekatan, kepercayaan, dan harapan yang disematkan pada sang jemaah. Relasi ini menciptakan ikatan emosional yang mendalam, seolah-olah perjalanan haji tersebut bukan hanya milik individu, tapi mewakili harapan kolektif komunitasnya.
Tak jarang, para jemaah juga merasa terbebani secara emosional karena merasa punya tanggung jawab moral untuk menyampaikan semua doa titipan. Ada yang bahkan membuat daftar khusus dalam buku catatan atau aplikasi ponsel agar tidak lupa. Hal ini menjadi semacam ritual tambahan yang secara tak langsung mempertebal kesalehan sosial jemaah haji. Mereka tidak hanya mendoakan diri sendiri, tetapi juga memikul amanah dari orang-orang yang menitipkan harapan.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!