Menggali Potensi Diri Bersama Ferry Curtis dalam “Ngabubulit di Mekarjaya”

ED
Selasa, 3 Maret 2026 | 18:32 WIB
Bagikan
Menggali Potensi Diri Bersama Ferry Curtis dalam “Ngabubulit di Mekarjaya”
VISI.NEWS|BANDUNG - “Coba sebutkan, lima saja potensi yang kalian miliki,” kata Ferry Curtis di tengah presentasinya di hadapan para pemuda Karang Taruna Desa Mekarjaya. Suara penyanyi balada yang juga aktivis literasi itu terdengar tenang. Matanya mencari-cari, apakah ada di antara 26 pemuda yang menjadi peserta acara “Ngabubulit di Mekarjaya” yang berani menjawab tantangannya. Namun, tidak ada seorang pun yang mengacungkan tangan. “Ya, kalau tidak ada relawan, saya tunjuk saja. Coba yang gondrong itu. Siapa nama kamu? Coba sebutkan lima potensi yang kamu punya,” ujar Ferry sambil menunjuk Reno (19). Anggota Karang Taruna Mekarjaya yang ternyata drumer itu tampak terdiam sejenak dan agak malu-malu menjawab. Teman-temannya tampak memperhatikan sebagian lagi tampak merenung—seolah pertanyaan itu juga sedang ditujukan kepada mereka. Reno ternyata tak bisa menyebutkan lima potensi yang dia miliki. “Nah, ini … di kita ini susah menemukan potensi diri, Padahal, di Amerika konon anak SD sudah bisa menyebutkan sepuluh potensi dirinya. Mengenal potensi diri sangat penting untuk menentukan langkah kita berikutnya,” tutur Ferry. Semua peserta terdiam dan kembali memperhatikan presentasi Ferry. Acara “Ngabubulit di Mekarjaya”—Ngabuburit sambil Berliterasi— adalah sebuah kegiatan literasi lingkungan bersama Ferry Curtis yang digelar di Balai Desa Mekarjaya, Kecamatan Pacet Ciparay, Minggu (1 Maret 2026), mulai pukul 16.00 WIB. Acara ini diprakarsai oleh Mahajaya Eduwisata dan Visi.news, bekerja sama dengan Pemerintah Desa Mekarjaya, Kompepar Desa Mekarjaya, dan Karang Taruna Desa Mekarjaya, dengan peserta utama anggota Karang Taruna Mekarjaya. Di hadapan para pemuda itu, Ferry menegaskan satu pesan mendasar; seseorang tidak bisa menentukan arah hidup, langkah kerja, dan tujuan perjuangan tanpa terlebih dahulu mengenal potensi dirinya sendiri. “Kalau kita tidak tahu siapa diri kita, kita akan bingung mau ke mana,” ujarnya. Ia kemudian mencontohkan perjalanan hidupnya sendiri—bagaimana ia mengenali minat, bakat, dan kapasitasnya, lalu mengolahnya menjadi jalan pengabdian melalui literasi, edukasi, dan gerakan sosial. Bagi Ferry, potensi bukan soal kehebatan besar, tetapi soal kesadaran untuk mengenali diri dan keberanian untuk mengembangkannya. Bagaimana cara mengembangkan potensi diri itu? Tentu saja dengan me-literasi-kan diri, yang diawali dengan kegiatan membaca. “Allah sejak awal sudah menjelaskannya dengan menurunkan ayat pertama yang diawali dengan kata iqra, bacalah!” ujar Ferry, yang kemudian mengajak peserta untuk berdiri. Ia mulai menyanyikan lagu ciptaannya, “Ayo ke Pustaka”, lagu literasi yang dikenal mampu mendorong minat baca masyarakat Indonesia hingga meningkat sekira 5 persen. Para peserta ikut bernyanyi sambil mengikuti gerakan khas lagu “Ayo ke Pustaka” sehingga suasana bertambah  meriah, hangat, dan penuh energi positif. Literasi tidak lagi terasa kaku, tetapi hadir sebagai pengalaman yang menyenangkan dan membangun kebersamaan. Setelah sesi menggali potensi diri, Ferry mengalihkan pertanyaan ke arah yang lebih luas. “Sekarang, apa potensi lingkungan sosial tempat kalian tinggal?” Awalnya hening. Lalu satu per satu jawaban muncul. Tentang alam yang subur, sumber air yang melimpah, potensi wisata, hingga kekayaan budaya lokal. Mekarjaya bukan desa biasa, melainkan desa dengan kekayaan sumber daya alam dan potensi sosial yang luar biasa besar. Seperti raksasa yang sedang tidur, Mekarjaya memang perlu dibangunkan. Hal itu juga yang dipesankan oleh Dindin Rusad Nurdin, S.Sos., Kepala Desa Mekarjaya dalam sambutannya sebelum membuka acara secara resmi. Dalam pesannya, ia menegaskan bahwa sumber daya alam Mekarjaya sangat besar, tetapi kekayaan itu tidak akan berarti apa-apa jika tidak dikelola oleh sumber daya manusia yang mumpuni. Oleh karena itu, ia mengajak para pemuda untuk terus belajar, membuka diri pada ilmu, berguru kepada para pakar, dan membangun kapasitas diri. “Masa depan Mekarjaya ada di pundak kalian,” ujarnya menegaskan. Acara ‘Ngabubulit di Mekarjaya’ yang juga dihadiri Ketua BUMDes Yudi, Ketua Kompepar Bubud Sihabudin, Ketua Karang Taruna Cepin, serta Tim Mahajaya Eduwisata berakhir saat kumandang azan Magrib terdengar. ‘Ngabubulit di Mekarjaya’ memang bukan sekadar acara literasi. Ia adalah ruang refleksi, ruang kesadaran, dan ruang tumbuh. Di sana, anak-anak muda belajar mengenal diri, mengenal desanya, dan mengenal tanggung jawabnya terhadap masa depan. Sejatinya, membangun desa tidak selalu dimulai dari proyek besar, tetapi dari satu kesadaran sederhana, mengenal potensi diri, lalu menggali potensi bersama. (TKS)

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.