Mengapa Hari Pramuka Diperingati Setiap 14 Agustus?
Ilustrasi para peserta mengikuti upacara Hari Pramuka./visi.news/ai.
Pada 1916, Mangkunegara VII di Solo membentuk Javaansche Padvinders Organisatie. Organisasi tersebut menjadi salah satu tonggak perkembangan kepanduan yang diikuti masyarakat pribumi.
Setelah itu, berbagai organisasi kepanduan bermunculan dengan latar belakang agama, kebangsaan, kesukuan, maupun kelompok masyarakat tertentu. Di antaranya Padvinder Muhammadiyah atau Hizbul Wathan, Nationale Padvinderij, Syarikat Islam Afdeling Pandu, Kepanduan Bangsa Indonesia, Indonesisch Nationale Padvinders Organisatie, Pandu Indonesia dan berbagai organisasi lainnya.
Perkembangan kepanduan di Hindia Belanda berlangsung cukup pesat. Aktivitas tersebut bahkan menarik perhatian tokoh kepanduan dunia, Lord Baden-Powell.
Lord Baden-Powell Pernah Berkunjung ke Indonesia
Pada awal Desember 1934, Lord Baden-Powell bersama istrinya, Lady Baden-Powell, dan anak-anak mereka mengunjungi sejumlah organisasi kepanduan di Batavia, Semarang, dan Surabaya.
Para pandu di Hindia Belanda juga mulai mengikuti kegiatan kepanduan internasional. Pada Jambore Sedunia 1933 di Hungaria, misalnya, delegasi kecil dari Hindia Belanda hadir sebagai peninjau.
Sementara pada Jambore Sedunia 1937 di Belanda, Kontingen Pandu Hindia Belanda turut berpartisipasi. Kontingen tersebut terdiri atas pandu keturunan Belanda dan bumiputera, termasuk dari Batavia dan Bandung, Pandu Mangkunegaran, pandu dari Ambon, serta sejumlah pandu keturunan Tionghoa dan Arab.
Di dalam negeri, kegiatan perkemahan dan jambore juga mulai berkembang. Salah satunya adalah All Indonesian Jamboree atau "Perkemahan Kepanduan Indonesia Oemoem" yang berlangsung pada 19-23 Juli 1941 di Yogyakarta.
Rangkaian tersebut menunjukkan bahwa tradisi kepanduan di Indonesia telah memiliki sejarah panjang sebelum Gerakan Pramuka secara resmi berdiri.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!