Menelusuri Penentuan Awal Ramadan di Zaman Rasulullah SAW

ED
Selasa, 17 Februari 2026 | 16:28 WIB
Bagikan
Menelusuri Penentuan Awal Ramadan di Zaman Rasulullah SAW

VISI.NEWS | BANDUNG - Penentuan awal Ramadan pada masa Muhammad SAW dilakukan dengan cara yang sederhana namun penuh ketelitian. Umat Islam saat itu belum mengenal perhitungan astronomi modern seperti sekarang. Penetapan awal puasa sepenuhnya mengandalkan rukyatul hilal, yakni pengamatan langsung terhadap munculnya bulan sabit pertama.

Pada masa Rasulullah SAW, kalender Islam sudah berbasis peredaran bulan (qamariyah). Awal bulan baru ditandai dengan terlihatnya hilal setelah matahari terbenam pada hari ke-29 bulan berjalan. Jika hilal terlihat, maka keesokan harinya ditetapkan sebagai tanggal 1 bulan baru, termasuk Ramadan.

Rasulullah SAW bersabda, “Berpuasalah kamu karena melihat hilal dan berbukalah kamu karena melihat hilal. Jika tertutup awan atasmu, maka sempurnakanlah hitungan bulan Sya’ban menjadi 30 hari.” Hadis ini menjadi dasar utama metode rukyat yang dipraktikkan pada masa itu.

Proses pengamatan dilakukan secara langsung oleh para sahabat. Mereka melihat ke arah ufuk barat setelah matahari terbenam untuk memastikan apakah bulan sabit sudah tampak. Jika ada sahabat yang menyaksikan hilal, ia melaporkannya kepada Rasulullah SAW.

Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa kesaksian satu orang yang terpercaya sudah cukup untuk menetapkan awal Ramadan. Namun untuk mengakhiri Ramadan atau menetapkan Idulfitri, biasanya dibutuhkan lebih dari satu saksi sebagai bentuk kehati-hatian.

Apabila cuaca mendung atau hilal tidak terlihat, Rasulullah SAW memerintahkan agar bulan Sya’ban digenapkan menjadi 30 hari. Cara ini menunjukkan prinsip kehati-hatian (ihtiyath) dalam ibadah agar umat tidak keliru dalam memulai puasa.

Metode yang diterapkan pada masa Rasulullah SAW menekankan kesederhanaan dan kemudahan. Tidak ada perdebatan teknis yang rumit karena masyarakat Arab saat itu dikenal sebagai umat yang “ummi”, yakni belum banyak menggunakan sistem perhitungan astronomi secara detail.

Meski demikian, praktik rukyat di zaman Rasulullah SAW tetap memiliki dasar ilmiah sesuai kemampuan saat itu, yakni observasi langsung terhadap fenomena alam. Prinsip ini kemudian berkembang di era berikutnya ketika ilmu falak dan astronomi Islam mulai maju.

Halaman :

1 2

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.