Memaknai Debat di Belantara Hutan Demokrasi

ED
Sabtu, 10 Februari 2024 | 14:16 WIB
Bagikan
Memaknai Debat di Belantara Hutan Demokrasi

Oleh Dede Farhan Aulawi

DI TENGAH hiruk-pikuk dinamika demokrasi bernama kampanye, nampaknya kita patut bersyukur bahwa kesadaran kolektif berpolitik bertumbuh di tengah masyarakat yang majemuk. Namun demikian, nampaknya kita masih harus bersabar menanti kematangan dan kedewasaan dalam berpolitik agar narasi yang berkembang masih menjunjung tinggi adat ketimuran bernama kesantunan.

Kadangkala masih tampak orang berdebat di permukaan kosa kata ketimbang esensi dan substansi dari new idea yang sebenarnya lebih layak untuk diperdebatkan. Adu program dan adu gagasan terhadap ide baru, modifikasi ide, ataupun kritik dan perbaikan ide sebenarnya bisa dielaborasi untuk menghasilkan sebuah formula pemikiran yang terbaik buat bangsa dan negara.

Formula demokrasi yang bertumbuh di dunia barat bisa menjadi bahan pertimbangan komparatif, tetapi tidak harus dijiplak utuh karena belum tentu cocok di sebuah negara yang menjunjung tinggi demokrasi Pancasila. Kebebasan berpendapat untuk mengeluarkan fikiran dalam koridor budaya yang luhur, masih memerlukan literasi pemilihan kosa kata verbal dan kosa kata non verbal yang saling menghargai dan menghormati. Ketulusan dan kejujuran menjadi karakter yang perlu dipedomani agar setiap kiprah memiliki arah. Indonesia masih sangat membutuhkan pemikiran dan perbuatan anak - anak bangsa yang ikhlas dalam bekerja. Bukan sekedar sengketa memendam kebencian beralaskan rasa kecewa.

Terkadang ketika mencermati perdebatan di ruang - ruang demokrasi, masih tampak terlalu banyak kebuntuan berfikir di tengah belantara argumen yang menimbulkan kesesatan bernama Logical Fallacy. Logical Fallacy (Sesat Berfikir) argumentum ad hominem, adalah sebuah strategi retorikal ketika seseorang menyerang kesalahan tulis, kesalahan istilah, kesalahan pemilihan kata, karakter, motif, atau beberapa atribut dari orang yang membuat argumen ketimbang menyerang substansi dari argumen itu sendiri. Penalaran ad hominem biasanya dipandang sebagai kesesatan logika,] atau bisa juga sebagai suatu bentuk cacat logika ketika lawan debat atau lawan bicara menyerang hal-hal di luar substansi dari tujuan utama sebuah debat maupun pembicaraan itu sendiri ataupun justru menyerang kepribadian.

Hal itu bisa meliputi gender, jenis kelamin, orientasi seksual, suku, ras, agama, warna kulit, bentuk mata, dan lain semacamnya sehingga debat menjadi tak substansial serta cenderung menjadi perundungan, penghinaan, caci maki dan penghujatan. Untuk itulah koridor budaya bisa bicara untuk mengingatkan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang luhur yang senantiasa menjaga marwah dan kehormatan lawan bicara, bahkan lawan politik sekalipun. Lawan politik bukanlah musuh yang harus diperangi, melainkan mitra berdemokrasi sehingga demokrasi berkembang dan semakin dewasa.***

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.