Dibalik Sumpah Pemuda Ada Tiga Hal yang Menjadi Pedoman Dasar
Tujannya adalah, tambahnya, untuk menyatukan keragaman suku budaya dari berbagai daerah. "Tapi sekarang terasa ada upaya memecah belah persatuan secara perlahan," tandasnya.
Padahal logikanya dengan tekhnologi akan semakin mudah informasi demi persatuan. Namun apa yang terjadi dan dirasakan, kata Yonandi, banyak informasi hoax, banyak memutarbalikan fakta. "Bahkan menggunakan medsos disalah artikan untuk memfitnah sana sini," cetusnya.
Kondisi ini sangat ironis, dimana negeri ini memiliki idiologi Pancasila. "Disini saya sebagai Kepala Sekolah, prinsifnya bahwa ketika Sumpah Pemuda dengan tiga poinya yaitu tanah air, bahasa, berbangsa satu yang utama adalah penguatan karakter dan peningkatan skill," katanya.
Dua hal itulah bagi pihak Seputas (Seputar Sekolah SMAN 10) di dunia pendidikan ketika menguak Sumpah Pemuda poinnya adalah bagaimana menguatkan karakter dan meningkatkan kemampuan, skill.
"Kita tidak boleh tutup mata, kenapa saya bilang menguatkan karakter. Karena tujuan pendidikan itu ujung ujungnya menciptakan genarasi yang akhlakul karimah," tandasnya.
Otomatis dalam proses pendidikan tidak hanya pelajaran, pendidikan yang utama di sekolah adalah penguatan pribadi atau karakter. "Apalagi saat ini Pak Mentri berharap bahwa muncul generasi atau pelajar Pancasila," kata Yonandi.
Disebutkan, pada prisifnya adalah mereka yang memiliki karekter akan menghasilkan pemimpin yang jujur, yang tidak selalu membuat kebijakan memfitnah banyak orang, radikal dan radikal.
"Banyak orang sedikit ini, radikal atau punya kepentingan ini itu, radikal. Sebaliknya pemerintah pun jangan-jangan terkenal dengan kebijakan yang selalu membuat kebijakan radikal," tuturnya.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!