Makanan Murah dan Mengenyangkan Jadi Pilihan Anak Muda, Gizi Terabaikan
Editor
Desi Rossilawati
Rabu, 16 Juli 2025 | 01:00 WIB
VISI.NEWS | BANDUNG - Harga terjangkau dan rasa kenyang masih menjadi pertimbangan utama banyak orang, termasuk anak muda, dalam memilih makanan. Namun, pilihan ini seringkali mengorbankan aspek gizi.
Studi terbaru Fix My Food bersama UNICEF mengungkap, 27 persen anak muda Indonesia lebih memilih makanan yang murah dan mengenyangkan tanpa memedulikan kandungan gizinya.
Peneliti Fix My Food, Syafa Syahrani, menjelaskan tekanan ekonomi menjadi alasan utama pola makan seperti ini berkembang di kalangan pelajar dan mahasiswa.
"Mereka lebih memilih makanan cepat saji atau camilan kemasan yang bisa dibeli dengan harga terjangkau, meski nilai gizinya minim," ujarnya dalam diskusi daring Diseminasi Hasil Studi Pemasaran Makanan Tidak Sehat, Kamis (10/7/2025).
Fenomena serupa juga diakui oleh Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi. Menurutnya, masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah kini semakin bergantung pada makanan instan dan olahan.
"Dari berbagai studi dan pengamatan, kita melihat bahwa keluarga dengan pendapatan ekonomi menengah ke bawah justru mengalami perubahan pola makan ke arah makanan cepat saji lebih tinggi dibanding keluarga berpendapatan tinggi," katanya.
Selain harga, faktor kepraktisan juga menjadi daya tarik makanan cepat saji. Banyak keluarga memilih membeli makanan siap santap ketimbang memasak dengan bahan segar yang lebih mahal dan menyita waktu.
Namun, Nadia menegaskan pola makan seperti ini meningkatkan risiko penyakit tidak menular.
"Kalau dikaitkan dengan penyakit tidak menular seperti diabetes, hipertensi, dan kolesterol, pola makan instan yang minim gizi ini menjadi salah satu pemicunya. Apalagi sekarang aktivitas fisik masyarakat juga semakin berkurang karena gaya hidup digital," paparnya.
Ia menambahkan, persoalan ini bukan hanya pilihan individu, melainkan cerminan tantangan struktural sistem pangan di Indonesia. Saat harga bahan segar terus naik, sedangkan makanan olahan tetap murah, masyarakat akan memilih jalan praktis meski berisiko bagi kesehatan.
"Kondisi ini memerlukan perhatian serius. Di satu sisi, perlu ada edukasi gizi dan kesadaran masyarakat akan pentingnya pola makan sehat. Di sisi lain, negara perlu mendorong akses terhadap makanan bergizi yang lebih terjangkau, terutama untuk kelompok rentan," tegasnya.
Tanpa intervensi menyeluruh, ketimpangan akses pangan akan terus memicu konsumsi makanan tidak sehat dan menimbulkan masalah kesehatan baru bagi generasi mendatang. @ffr
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!