Ketua PN Tangerang Promosi, Seorang Hakim Beralih Tugas ke Bandung 28 Aug 2026 Garis Polisi di Lahan Sengketa Gumuk Lesung Hilang, Warga Minta Kejelasan 28 Aug 2026 ASAI Hotels Buka di Malaysia, Terbesar di Dunia 28 Aug 2026 Daging Ayam Tembus Rp40 Ribu, Jadi Perhatian Pemkot Bandung 28 Aug 2026 Cuaca Bandung Jumat 28 Agustus 2026, Cerah hingga 31 Derajat Celsius 28 Aug 2026 Amin Ak: APBN 2027 Harus Perkuat Sektor Riil dan UMKM 27 Aug 2026 206 Nakes Dikirim ke Flores, Netty Soroti Keselamatan Tenaga Kesehatan 27 Aug 2026 Puteri Komarudin Dukung Kepemimpinan Perempuan di Bank Indonesia 27 Aug 2026 Jual SIM Palsu, Pria di Sukabumi Dibekuk Polisi 27 Aug 2026 Ketua Komisi B DPRD Jember Laporkan Dugaan Perusakan Gumuk Lumpang ke Polres Jember 27 Aug 2026 Ketua PN Tangerang Promosi, Seorang Hakim Beralih Tugas ke Bandung 28 Aug 2026 Garis Polisi di Lahan Sengketa Gumuk Lesung Hilang, Warga Minta Kejelasan 28 Aug 2026 ASAI Hotels Buka di Malaysia, Terbesar di Dunia 28 Aug 2026 Daging Ayam Tembus Rp40 Ribu, Jadi Perhatian Pemkot Bandung 28 Aug 2026 Cuaca Bandung Jumat 28 Agustus 2026, Cerah hingga 31 Derajat Celsius 28 Aug 2026 Amin Ak: APBN 2027 Harus Perkuat Sektor Riil dan UMKM 27 Aug 2026 206 Nakes Dikirim ke Flores, Netty Soroti Keselamatan Tenaga Kesehatan 27 Aug 2026 Puteri Komarudin Dukung Kepemimpinan Perempuan di Bank Indonesia 27 Aug 2026 Jual SIM Palsu, Pria di Sukabumi Dibekuk Polisi 27 Aug 2026 Ketua Komisi B DPRD Jember Laporkan Dugaan Perusakan Gumuk Lumpang ke Polres Jember 27 Aug 2026

KULTUM | Menghargai Perbedaan Rakaat Tarawih

ED
Minggu, 3 April 2022 | 05:56 WIB
Bagikan
KULTUM | Menghargai Perbedaan Rakaat Tarawih

Karenanya benar, dalam urusan tarawih yang jelas-jelas diperselisihkan ulama, kita tidak boleh memaksakan orang lain harus sama dengan kita. Semua ada dalilnya dan dapat dipertanggungjawabkan. Satu sama lain harus saling menghargai perbedaan jumlah rakaat tarawih. Yang tarawih 8 rakaat tidak apa. Yang tarawih 20 rakaat alhamdulillah. Yang tidak atau belum berangkat tarawih kita doakan besok segera tarawih bersama-sama kita. Amin.

Suatu kali Imam Malik didatangi Khalifah Harun Ar-Rasyid yang hendak menjadikan kitab Al-Muwatha’ karya beliau sebagai rujukan hukum di seluruh negeri. “Aku ingin memaksa orang-orang mengikuti kitab Al-Muwatha’ sebagaimana Utsman memerintahkan orang-orang merujuk mushaf Al-Qur’an hasil kodifikasinya,” tegas Khalifah Harun Ar-Rasyid.

Namun apa respons Imam Malik? Di luar dugaan sang khalifah, dengan tegas Imam Malik menjawab: “Adapun pemaksaan orang-orang untuk mengikutiku, maka aku tidak mau. Sebab para sahabat Nabi Muhammad saw telah tersebar di berbagai kota, lalu mereka pun telah meriwayatkan hadits kepada para penduduknya. Masing-masing kota sudah ada rujukan ilmunya. Bukankah Nabi saw sendiri telah bersabda: ‘Ikhtilâfu ummatî rahmah (perbedaan umatku, maksudnya ulama, adalah rahmat)?’ Sebagaimana dikisahkan oleh Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulûmiddîn juz I halaman 27. Dari kisah ini kita menyadari, sudah semestinya kita tidak memperbesar perbedaan dalam hal-hal yang tidak prinsip dan memang diperselisihkan hukumnya di kalangan ulama.

Cukuplah Imam Malik menjadi teladan. Apalagi dalam bulan Ramadhan, kita harus lebih ekstra hati-hati jangan sampai menyakiti dan menyinggung orang lain, seiring sabda Nabi Muhammad saw:

إِنَّ الصِّيَامَ جُنَّةٌ، فَإِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ صَائِمًا فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَجْهَلْ. فَإِنْ امْرُؤٌ شَاتَمَهُ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي صَائِمٌ (رواه أحمد)

Artinya, “Sungguh puasa adalah benteng dari api neraka, karenanya ketika salah seorang dari kalian berpuasa, maka jangan berkata buruk dan berbuat bodoh.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.