KTP2JB dan IIJ Peringati Hari Pers Sedunia 2025, Soroti Keberlanjutan Media di Era Digital
Editor
Desi Rossilawati
Minggu, 4 Mei 2025 | 11:53 WIB
VISI.NEWS | JAKARTA - Komite Tanggung Jawab Perusahaan Platform Digital untuk Jurnalisme Berkualitas (KTP2JB) bersama Indonesian Institute of Journalism (IIJ) memperingati Hari Kebebasan Pers Sedunia 2025 dengan menggelar berbagai kegiatan selama dua hari di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Sabtu (3/5/2025) sampai Minggu (4/5/2025).
Dengan mengusung tema 'Media Sustainability: Strengthening Democracy and Public Trust', peringatan ini dirancang sebagai ruang temu antara jurnalis, pegiat media, akademisi, mahasiswa, hingga perwakilan pemerintah dan platform digital. Tujuannya: memperkuat peran media independen dalam menjaga demokrasi serta meningkatkan kepercayaan publik di tengah tekanan ekonomi dan digitalisasi.
"Di era digital, tantangan terhadap keberlangsungan jurnalisme berkualitas semakin besar. Oleh karena itu, kolaborasi antara media, pemerintah, dan masyarakat sangat penting untuk memastikan bahwa jurnalis dapat terus bekerja dengan integritas tanpa tekanan atau ancaman," ujar Suprapto, Ketua KTP2JB.
“Saya mengajak semua pihak untuk bersama-sama mendukung peringatan Hari Kebebasan Pers Sedunia pada 3-4 Mei di TIM. Ini adalah momentum untuk memperkuat komitmen kita dalam melindungi kebebasan pers dan memperjuangkan ekosistem jurnalisme yang lebih adil dan berkelanjutan." sambungnya.
Kegiatan tersebut meliputi seminar, diskusi publik, lokakarya jurnalisme, jalan sehat, dan bazar media. Lebih dari seremoni, acara ini diharapkan menjadi forum reflektif sekaligus produktif dalam menggagas masa depan pers Indonesia.
Menurut Sasmito Madrim, Ketua Panitia dan Koordinator Bidang Pelatihan KTP2JB, kondisi pers nasional saat ini tidak bisa dikatakan baik-baik saja.
“Sebagai panitia kegiatan, saya sadar bahwa kondisi pers hari ini tidak baik-baik saja. Termasuk demokrasi juga sedang menghadapi tantangan yang luar biasa. Tapi sebagai komunitas pers, kita harus optimistis,” tegasnya.
“Tantangan boleh apa saja, tapi kita harus selalu merespons dengan sikap dan kebijakan terbaik untuk keberlanjutan media,” tambah Sasmito.
Situasi global pun turut memperkuat urgensi agenda ini. Laporan terkini dari Reporters Without Borders (RSF) menyebut, indeks kebebasan pers dunia pada 2025 merosot ke titik terendah. Indonesia sendiri mengalami penurunan signifikan, dari peringkat 111 pada 2024 menjadi 127 pada 2025.
RSF menyoroti bagaimana tekanan ekonomi, dominasi politik dalam kepemilikan media, serta intervensi redaksional mengancam kebebasan informasi. Fenomena ini tidak hanya terjadi di negara-negara otoriter, namun juga di negara demokrasi seperti Australia dan Taiwan.
“Indikator ekonomi pada Indeks Kebebasan pers Dunia RSF kini berada pada titik terendah–belum pernah terjadi sebelumnya–dan kritis, lantaran penurunannya terus berlanjut pada 2025. Akibatnya, kondisi kebebasan pers global kini diklasifikasikan sebagai situasi yang 'sulit' untuk pertama kalinya dalam sejarah Indeks,” demikian tulis RSF dalam pernyataan tertulisnya, Jumat (2/5/2025).
Hari Kebebasan Pers Sedunia yang diperingati saban 3 Mei menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya kemerdekaan pers di Indonesia. Selain itu juga, mengingatkan semua pihak di level negara, bisnis dan kelompok sipil untuk bersama-sama menghormati serta menjamin berjalannya kebebasan pers dan kebebasan berpendapat.
Oleh karena itu, Hari Kebebasan Pers Sedunia menjadi pengingat penting akan perlunya menjaga ruang informasi yang sehat dan merdeka. Indonesia, sebagai salah satu negara demokrasi terbesar, ditantang untuk menciptakan strategi jangka panjang demi keberlanjutan media di tengah transformasi digital, tekanan konglomerasi, dan perubahan konsumsi berita masyarakat.
“Tentu saja ini bukan proses semalam, dua malam, sehari, dua hari. Setelah acara ini, lalu berhenti atau redup lagi. Kita butuh lebih banyak ruang-ruang tukar pendapat dan eksperimen,” pungkas Sasmito.
“Dengan kompleksitas tantangan industri media, ruang-ruang perjumpaan offline antar-pemangku kepentingan seperti ini perlu lebih sering dilakukan. Tidak hanya untuk momen refleksi bersama-sama, tapi juga sering-sering membahas, memunculkan ide yang bisa dikonkretkan,” ucap Sasmito lagi.
Dalam rangka memperingati Hari Kebebasan Pers Sedunia 2025, diharapkan memperkuat peran media sebagai pilar demokrasi. Di tengah tantangan disrupsi digital dan tekanan ekonomi, acara ini menjadi ruang kolaboratif bagi jurnalis, akademisi, pemerintah, dan platform digital untuk mendorong keberlanjutan media dan menciptakan ekosistem informasi yang sehat, independen, dan kredibel. @ffr
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!