Krisis yang Diperingatkan Bertahun-tahun Akhirnya Meledak, Ekonomi Iran Jadi Pemicu Kerusuhan Nasional
VISI.NEWS | BANDUNG – Gelombang demonstrasi besar yang mengguncang Iran dan telah menelan ratusan korban jiwa bukanlah peristiwa yang muncul secara tiba-tiba. Kerusuhan yang kini meluas ke berbagai kota justru menjadi akumulasi dari krisis ekonomi berkepanjangan yang sejak lama diperingatkan para analis, ekonom, dan media domestik Iran sendiri.
Ketidakpuasan publik dipicu oleh lonjakan inflasi dan kenaikan harga kebutuhan pokok yang dalam beberapa kasus mencapai 70 persen. Tekanan ekonomi ini mendorong masyarakat turun ke jalan bukan semata karena kegelisahan politik, melainkan akibat kondisi hidup yang semakin terjepit. Banyak warga menghadapi kantong kosong, tagihan yang menunggak, serta semakin sulitnya memperoleh barang kebutuhan sehari-hari.
Kondisi tersebut diperparah oleh kekeringan yang berlangsung selama bertahun-tahun dan buruknya pengelolaan pasokan air, yang berdampak langsung pada produksi pangan lokal. Di saat yang sama, pemadaman listrik berkepanjangan dan lemahnya pasar tenaga kerja memperburuk situasi sosial, terutama bagi kelas pekerja dan masyarakat berpenghasilan rendah.
Sesungguhnya, tanda-tanda keruntuhan ekonomi Iran telah terlihat jauh sebelum gelombang kerusuhan pecah. Pada 2025, sejumlah laporan menyebut negara itu telah terperosok ke dalam krisis struktural akibat puluhan tahun salah urus ekonomi. Devaluasi mata uang nasional menjadi indikator paling nyata dari memburuknya kondisi tersebut. Nilai tukar dolar Amerika Serikat di pasar bebas Iran yang berada di kisaran 60.000 toman pada awal pemerintahan Presiden Masoud Pezeshkian kini telah melampaui angka 100.000 toman.
Media pemerintah Iran, Jahan Sanat, secara terbuka mengakui dampak krisis nilai tukar tersebut dengan menyatakan, “Nilai tukar rial terhadap dolar pada tahun kalender Persia 1403 mencapai titik terendahnya. Devaluasi rial yang parah telah membuat masyarakat marah dan bingung.” Pelemahan tajam mata uang nasional ini tidak hanya memicu inflasi tinggi, tetapi juga menyeret pasar keuangan Iran ke dalam ketidakpastian yang semakin dalam.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!