Korban Keracunan MBG di Bandung Barat Lebih 70 Siswa
VISI.NEWS | KBB - Kejadian mencekam melanda Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat. Puluhan siswa dari tiga sekolah—SMK Pembangunan Bandung Barat (PBB), MTs Darul Fiqri, dan SD Negeri Cipari—tumbang satu per satu setelah menyantap paket Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Senin (22/9/2025) siang. Hingga petang, jumlah korban melonjak drastis menjadi 75 orang.
Gejala yang mereka alami bukan sekadar mual dan pusing. Beberapa siswa bahkan mengalami sesak napas hingga kejang-kejang. Suasana ruang Unit Gawat Darurat (UGD) Puskesmas Cipongkor berubah tegang, ketika pasien berdatangan silih berganti sejak pukul 12.06 WIB. “Pasien terus berdatangan hingga petang ini kami terima. Pasien dengan jumlah 14 orang dirujuk. Pasien tak hanya siswa SMK dan MTs, tetapi juga siswa SD Cipari,” ungkap Kepala Puskesmas Cipongkor, Yuyun Sarihotimah.
Situasi makin genting ketika 14 siswa harus segera dilarikan ke RSUD Cililin. Kondisi mereka memburuk dengan keluhan sesak yang kian parah. “Rata-rata pasien yang dirujuk mengeluhkan sesak. Kami tak bisa menangani di sini, jadi harus segera ke rumah sakit rujukan,” lanjut Yuyun dengan wajah serius.
Untuk mengantisipasi ledakan kasus, posko darurat segera didirikan di tiga titik: UGD Poned Puskesmas Cipongkor, GOR Kantor Kecamatan Cipongkor, dan Bidan Desa Sirnagalih. Namun, derasnya arus pasien membuat tenaga medis dari Puskesmas Saguling, Gununghalu, dan Sindangkerta harus diturunkan sebagai bala bantuan.
“Bayangkan, total porsi MBG yang beredar di Cipongkor ini mencapai 3.600. Jika penyebab keracunan benar dari makanan itu, potensi kasus masih bisa bertambah,” kata Yuyun dengan nada khawatir. Pernyataan ini sontak membuat warga semakin cemas.
Dugaan awal mengarah pada lauk ayam dalam paket MBG. Sejumlah siswa mengaku ayam yang mereka makan sudah berbau asam saat disantap. Cerita itu menguatkan kecurigaan adanya kontaminasi sejak bahan makanan diolah. “Informasi awal dari siswa, ayam itu memang sudah terasa asam. Tapi kepastian penyebab tetap harus menunggu hasil laboratorium,” tegas Yuyun.
Namun, waktu terasa berjalan lambat bagi para orang tua yang panik menunggu kabar anak mereka. Isak tangis dan doa tak putus-putus terdengar di sekitar posko medis. Mereka hanya berharap kondisi anak-anak segera membaik.
Program MBG yang sejatinya dirancang untuk memberi gizi tambahan bagi siswa justru berbalik menjadi malapetaka di Cipongkor. Kasus ini menambah panjang daftar tragedi serupa di berbagai daerah. Pertanyaan besar kini menggantung: di mana pengawasan pemerintah?
Malam ini, tim medis dan aparat kecamatan tetap bersiaga. Namun, bayang-bayang tambahan korban masih menghantui. Tragedi Cipongkor menjadi alarm keras bahwa program mulia bisa berubah jadi bencana jika keamanan pangan diabaikan.
@uli
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!