Konser Kataklastik Budaya Jawa Timur, Pertemuan Tiga Lempeng Dunia
VISI.NEWS | SURABAYA - Selama ini, paling jauh kita menyentuh sisi antropologi-arkeologi untuk mendapatkan simpul-simpul kearifan purba yang mendasari keindahan-kemanfaatan seni budaya.
Jarang kita saksikan ada yang menyelam jauh sampai ke geologi: bebatuan apa saja yang mendasari/mengalasi daerah-daerah yang secara sosial-budaya sedang kita gerataki. Apalagi melacak jauh ke awal mula jadi batu-batuan itu yang bisa saja berasal dari tempat-tempat yang jauh, yang kemudian terpisah-pisah dan mengumpul dengan serpihan-serpihan batuan (baca: lempeng bumi) dari tempat lainnya lalu membentuk alas bumi batuan yang ada sekarang, sejarah tektonik lempengnyalah.
Nah, kalau kita bisa menguraikan sejarah geologi tektonik lempeng bumi Jawa Timur dan mencoba menghubungkannya dengan fenomena-fenomena seni budaya yang ada di permukaan buminya, mungkin akan banyak hal-hal baru yang bisa kita pahami dan bermanfaat untuk proses kreatif positif selanjutnya. Fenomena Jawa Timur yang merupakan pertemuan dari 3 lempeng dunia yang membuatnya menjadi daerah yang cukup rawan terhadap bencana geologis.
Untuk itu dibutuhkan penyampaian informasi tentang mitigasi bencana. Bukan untuk membuat masyarakat ketakutan akan tetapi agar kita senantiasa siap saat bencana geologis itu datang sehingga kita bisa meminimalisir korban dan kerugian. Selain dari pada bencana yang selalu mengintip kita, ada banyak sumber daya alam yang terkandung di dalamnya dan hal tersebut sebanyak-banyaknya diusahakan untuk kemanfaatan bagi kemakmuran rakyat.
Untuk itulah kami berupaya memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang ilmu-ilmu Geologi/Kebumian dengan pendekatan seni budaya.
Dr. Ir. Andang Bachtiar M.Sc yang - seorang Geologis Merdeka - menyanyikan syair puisinya menggandeng anak-anak muda dari tanah kelahirannya, Malang, untuk menyelaraskan puisi-puisinya yang diciptakan sejak kurun waktu yang lama. Maka jadilah Penyelaras.
Penyelaras terdiri dari Charles Djalu yang bertindak sebagai arranger, lead guitar dan vocal. Lalu ada Endri Wejoe yang memainkan bass dan juga menggarap aransemen musik. Redy Eko Prastyo yang memainkan sape dan dawai cempluk, sebuah gitar hasil olah karya warga kampung tempat Redy tinggal. Kemudian Andhika Riptayudo Nugroho sebagai arranger dan keyboardist. Retno Pamedarsih, istri Andang Bachtiar juga ikut sebagai vocalist. Di dalam perjalanannya Andang Bachtiar dan Penyelaras dibantu Angga Rhaditya Irawan yang memainkan drum dan Wahyu Kurnia pada gitar.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!