Konser 2026 Ramai, Fanbase Jadi Kekuatan Musisi
VISI.NEWS — Antusiasme masyarakat Indonesia terhadap pertunjukan musik masih tinggi sepanjang 2026. Jadwal konser dan fan meeting yang menghadirkan musisi lokal maupun internasional terus dipadati penggemar, menunjukkan bahwa industri musik tetap memiliki basis audiens yang kuat di tengah semakin beragamnya pilihan hiburan digital.
Fenomena tersebut tidak hanya terlihat dari kehadiran musisi Barat. Artis asal Korea Selatan dan negara Asia lainnya juga semakin rutin menyambangi Indonesia untuk bertemu dan berinteraksi langsung dengan penggemarnya.
Kondisi ini memperlihatkan besarnya peran basis penggemar dalam keberlangsungan ekosistem musik. Dukungan penggemar tidak hanya diwujudkan dengan membeli tiket konser, tetapi juga melalui aktivitas digital, mengikuti akun media sosial, mendengarkan musik secara streaming, bergabung dengan fanbase, hingga mengoleksi merchandise.
Gambaran mengenai perilaku tersebut tercermin dalam laporan terbaru Jakpat mengenai kebiasaan penonton konser dan perilaku penggemar musik pada 2026. Riset bertajuk Music Concert Trends & Fan Behaviors 2026 itu melibatkan 1.865 responden dan dilakukan pada 29 Juni hingga 1 Juli 2026.
Survei tersebut mengulas berbagai aspek terkait perilaku penggemar musik, mulai dari preferensi musisi, kebiasaan memberikan dukungan, pengeluaran dan koleksi merchandise, aktivitas fanbase, hingga minat menghadiri konser dan fan meeting.
Dalam survei tersebut, musisi Indonesia masih menjadi pilihan utama responden. Sebanyak 77 persen responden menyatakan menyukai musisi Indonesia.
Sementara itu, preferensi terhadap musisi internasional menunjukkan perbedaan berdasarkan gender. Sebanyak 27 persen responden pria menggemari musisi Barat, sedangkan 34 persen responden wanita menyukai musik Korea Selatan atau K-pop.
Lead Researcher Jakpat Farida Hasna mengatakan semakin luasnya akses terhadap musik global tidak serta-merta menggeser posisi musisi Indonesia di mata pendengar.
“Semakin banyaknya pilihan musik global tidak membuat musisi Indonesia kehilangan tempat di hati pendengar. Justru, masyarakat kini menikmati karya dari berbagai negara sambil tetap mempertahankan kedekatan dengan musisi lokal,” ujar Farida.
Menurut dia, perkembangan platform digital membuat penggemar memiliki lebih banyak cara untuk berinteraksi dengan musisi. Dukungan tersebut tidak selalu harus dilakukan melalui pengeluaran finansial.
Data Jakpat menunjukkan aktivitas dukungan digital justru menjadi pilihan paling populer. Sebanyak 50 persen responden memilih mendengarkan musik melalui layanan streaming, sementara 46 persen mengikuti akun media sosial musisi favorit.
Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan responden yang membeli merchandise, yakni 15 persen, maupun album fisik yang hanya mencapai 12 persen.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa keterlibatan penggemar dengan musisi kini banyak berlangsung melalui ruang digital. Penggemar dapat mendukung musisi dengan mendengarkan karya, mengikuti perkembangan terbaru, hingga berinteraksi melalui media sosial tanpa harus mengeluarkan biaya besar.
Meski demikian, pengalaman menyaksikan penampilan musisi secara langsung tetap memiliki tempat tersendiri. Sebanyak 22 persen responden mengaku menonton konser musisi favorit secara langsung, sementara persentase yang sama juga menonton konser secara online.
Sebanyak 14 persen responden bahkan memilih bergabung dengan basis penggemar atau fanbase.
Fanbase menjadi salah satu bentuk keterikatan yang lebih jauh antara penggemar dan musisi. Komunitas tersebut bukan sekadar tempat bertukar informasi mengenai idola, tetapi juga menjadi ruang bagi penggemar untuk berinteraksi dengan orang-orang yang memiliki ketertarikan serupa.
Dalam hal merchandise, kaus menjadi barang yang paling banyak dikoleksi. Sekitar tujuh dari 10 penggemar yang mengoleksi merchandise memiliki kaus musisi favorit.
Kecenderungan tersebut terutama terlihat pada kelompok Milenial. Selain kaus, merchandise yang cukup banyak dikoleksi adalah jaket dengan persentase 44 persen, stiker 40 persen, dan gantungan kunci 38 persen.
Sementara itu, Gen Z menunjukkan karakteristik koleksi yang berbeda. Sebanyak 44 persen responden Gen Z mengoleksi photocard musisi atau idola favorit mereka.
Photocard sendiri menjadi salah satu merchandise yang populer dalam budaya fandom, khususnya di kalangan penggemar K-pop. Barang tersebut tidak hanya berfungsi sebagai koleksi, tetapi juga menjadi bagian dari identitas dan aktivitas komunitas penggemar.
Keterlibatan dalam komunitas fanbase juga cukup tinggi. Sebanyak 77 persen responden mengaku mengikuti komunitas penggemar lokal.
Di sisi lain, 40 persen responden bergabung dengan fanbase musisi Korea Selatan. Kecenderungan tersebut terutama terlihat pada kelompok Gen Z yang memiliki kedekatan kuat dengan budaya populer Korea Selatan.
Sementara itu, sekitar tiga dari 10 responden Milenial bergabung dengan fanbase musisi asal Amerika Serikat.
Farida mengatakan fanbase menjadi tahapan berikutnya bagi penggemar yang ingin membangun keterikatan lebih kuat dengan musisi favorit.
“Bagi sebagian penggemar, menikmati karya atau mengikuti aktivitas musisi belum menjadi akhir. Bergabung dengan fanbase menjadi langkah berikutnya untuk terhubung dengan komunitas yang memiliki antusiasme serupa. Di titik inilah engagement penggemar terhadap musisi semakin erat,” katanya.
Di antara fanbase musisi Indonesia, Sheila Gank yang merupakan komunitas penggemar Sheila on 7 menjadi yang paling banyak diikuti responden, dengan persentase 47 persen.
Posisi berikutnya ditempati Baladewa, komunitas penggemar Dewa 19, dengan 35 persen. Sementara Slankers, fanbase Slank, berada di urutan berikutnya dengan 32 persen.
Untuk kategori K-pop, ARMY yang merupakan fanbase BTS menjadi komunitas dengan persentase terbesar, yakni 58 persen.
Setelah ARMY, terdapat EXO-L sebagai fanbase EXO dengan 39 persen dan BLINK sebagai komunitas penggemar Blackpink dengan 36 persen.
Data tersebut menunjukkan bahwa kekuatan fanbase tidak hanya berkaitan dengan jumlah pengikut. Komunitas penggemar dapat menjadi ruang yang mempertahankan hubungan antara artis dan pendukungnya dalam jangka panjang.
Selain konser, tren fan meeting juga semakin menarik perhatian masyarakat Indonesia. Acara yang memungkinkan penggemar bertemu lebih dekat dengan idolanya tersebut menjadi salah satu bentuk interaksi yang semakin populer.
Jakpat mencatat tiga perlima responden telah menghadiri satu hingga tiga acara fan meeting selama paruh pertama 2026.
Namun, frekuensi kehadiran menunjukkan perbedaan berdasarkan kelompok demografis. Sebanyak 38 persen responden perempuan dan 34 persen Gen Z sebagian besar baru menghadiri fan meeting satu kali.
Sementara itu, 39 persen responden pria dan 34 persen Milenial tercatat menghadiri fan meeting sebanyak dua hingga tiga kali.
Salah satu fan meeting yang paling banyak dihadiri responden adalah 2026 Hearts2Hearts FANMEETING in JAKARTA. Acara yang berlangsung pada 28 Maret 2026 tersebut dihadiri oleh 40 persen responden yang mengikuti survei terkait fan meeting.
Antusiasme terhadap agenda serupa juga masih terlihat untuk paruh kedua 2026.
Sebanyak 35 persen responden menyatakan berencana menghadiri 2026 PARK JI HOON ASIA FANCON [RE:FLECT] in Jakarta yang dijadwalkan berlangsung pada 19 Agustus 2026.
Tingginya minat terhadap fan meeting menunjukkan bahwa pengalaman langsung menjadi bagian penting dalam perilaku penggemar. Di tengah kemudahan menikmati musik melalui layanan streaming dan berbagai platform digital, pertemuan tatap muka tetap menawarkan pengalaman yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh interaksi daring.
Bagi penggemar, konser dan fan meeting bukan hanya kesempatan untuk menikmati penampilan musik. Acara tersebut juga menjadi ruang untuk bertemu sesama penggemar, membangun komunitas, mengabadikan pengalaman, serta menunjukkan dukungan secara langsung kepada artis.
Sementara bagi musisi, tingginya antusiasme tersebut memperlihatkan pentingnya menjaga hubungan dengan basis penggemar. Loyalitas penggemar dapat muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari aktivitas streaming dan mengikuti media sosial hingga membeli merchandise, menghadiri konser, dan bergabung dalam fanbase.
Temuan Jakpat juga memperlihatkan bahwa preferensi terhadap musik lokal dan internasional dapat berjalan bersamaan. Masyarakat Indonesia tidak harus memilih antara musisi dalam negeri dan artis asing.
Musisi Indonesia tetap memiliki posisi kuat di kalangan pendengar, sementara musik Korea Selatan, Barat, dan berbagai negara lainnya juga memiliki segmen penggemar masing-masing.
Perkembangan tersebut menjadi gambaran bahwa industri musik Indonesia memiliki pasar penggemar yang semakin beragam. Digitalisasi membuka akses lebih luas terhadap musik global, tetapi kedekatan emosional antara penggemar dan musisi tetap menjadi faktor penting.
Pada saat yang sama, pola dukungan penggemar juga semakin berlapis. Dukungan tidak lagi hanya diukur dari kemampuan membeli tiket konser atau merchandise. Aktivitas streaming, mengikuti media sosial, bergabung dengan komunitas, serta menghadiri berbagai kegiatan yang melibatkan musisi juga menjadi bagian dari ekosistem fandom.
Dengan jadwal konser dan fan meeting yang masih terus berlangsung sepanjang 2026, tren tersebut menunjukkan bahwa pengalaman musik secara langsung maupun digital masih memiliki daya tarik besar di Indonesia.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!