Konsep Hidup Sederhana Ala Rasulullah
Dengan membawa barang yang sedikit, seorang traveler dapat menikmati perjalanan dengan lebih ringan dan bebas, lebih fokus pada eksplorasi destinasi, dan menciptakan kenangan tanpa merasa terbebani oleh barang bawaan. Prinsip yang diajarkan Rasulullah tersebut tercatat dalam Shahih Al-Bukhari, yaitu:
وعن ابن عمر – رضي الله عنهما- قال: أخذ رسول الله صلى الله عليه و سلم بمنكبي فقال: كن في الدنيا كأنك غريب، أو عابر سبيل وكان ابن عمر – رضي الله عنهما – يقول: إذا أمسيت فلا تنتظر الصباح، وإذا أصبحت فلا تنتظر المساء، وخذ من صحتك لمرضك، ومن حياتك لموتك. رواه البخاري
Artinya, “Dari Ibnu Umar ra, beliau berkata: "Rasulullah saw pernah memegang kedua pundakku seraya berkata, “Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau musafir.” Ibnu Umar berkata: “Jika engkau berada di sore hari jangan menunggu datangnya pagi dan jika engkau berada pada waktu pagi hari jangan menunggu datangnya sore. Pergunakanlah masa sehatmu sebelum sakit dan masa hidupmu sebelum mati.” (HR Al-Bukhari).
Ketiga, gaya hidup minimalis ala Rasulullah juga tercermin dalam hadits yang menegaskan bahwa pada akhirnya harta yang dimiliki seseorang bersifat fana dan lenyap, baik dalam bentuk makanan, kebutuhan sehari-hari atau sedekah amal jariyah. Sedangkan sisanya, boleh jadi bukan dirinya yang menikmatinya.
Terkait hal di atas, Abdullah bin As-Syukhair pernah menceritakan:
أتيت النبي صلى الله عليه وسلم وهو يقرأ ألهاكم التكاثر، قال: يقول ابن آدم: مالي، مالي . قال: وهل لك يا ابن آدم من مالك، إلا ما أكلت فأفنيت، أو لبست فأبليت، أو تصدقت فأمضيت
Artinya, “Aku datang kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, dan beliau sedang membaca Alhaakumut takaatsur, lalu beliau bersabda :“ Anak Adam berkata :'Hartaku, hartaku.'" Kemudian Nabi saw berkata lagi: 'Wahai anak Adam tidaklah ada dari hartamu kecuali yang engkau makan kemudian lenyap, atau pakaian yang engkau pakai kemudian usang, atau yang engkau sedekahkan dan jadi simpananmu (di akhirat).” (HR Muslim).
Rasulullah saw mengajarkan umatnya untuk tidak terlalu terikat pada kekayaan dunia yang sementara, melainkan memprioritaskan nilai-nilai spiritual dan amal kebaikan yang akan membawa keberkahan di dunia dan akhirat.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!