Kisah Ibrahim bin Adham: Burung yang Patah Sayapnya
VISI.NEWS | BANDUNG - Suatu hari, dua orang sufi terkenal, Ibrahim bin Adham dan Syaqiq Al-Balkhi bertemu di Makkah. Dalam pertemuan tersebut, Ibrahim bin Adham berhasil mengubah pemikiran Syaqiq Al-Balkhi. Hal ini bermula ketika Ibrahim bin Adham memulai dialog dengan melontarkan pertanyaan pada Syaqiq.
"Bagaimana kisah awal perjalanan spiritualmu?" demikian pertanyaan Ibrahim bin Adham pada Syaqiq, sebagaimana dikisahkan oleh Khalaf bin Buhaim dan dicatat oleh Imam Ibnu Jauzi dalam Kitab 'Uyunul Hikayat. (Ibnu Jauzi, 'Uyunul Hikayat, , halaman 285).
Mendapat pertanyaan itu, Syaqiq langsung menceritakan pengalaman pribadinya yang menjadi titik tolaknya menempuh perjalanan spiritual.
Diceritakan Syaqiq, suatu hari ia sedang menempuh perjalanan di sebuah gurun. Merasa lelah, ia pun beristirahat untuk mengembalikan energi yang terkuras oleh panasnya terik matahari.
Saat istirahat, tiba-tiba Syaqiq dikagetkan oleh seekor burung yang jatuh tidak jauh dari tempat istirahatnya. Setelah diperhatikan, ternyata burung itu sayapnya patah sehingga tidak mampu untuk terbang dan mencari makanan.
"Kita lihat, dari mana burung ini bisa mendapatkan makanan?" gumam Syaqiq dalam hatinya sambil mendekati dan terus memperhatikan burung itu. Ibrahim bin Adham belum memberikan respons, ia tetap fokus mendengarkan kisah Syaqiq Al-Balkhi. Tiba-tiba, kata Syaqiq, datang seekor burung yang sehat dan normal mendekati burung yang sakit dan terjatuh.
"Burung sehat ini membawa belalang di paruhnya, lalu menyodorkan belalang itu ke paruh burung yang sayapnya patah," sambung Syaqiq.
Peristiwa tersebut membuat hati Syaqiq tertegun. Ia pun memuji kekuasaan Allah yang telah memberikan rejeki berupa makanan kepada burung yang tak berdaya di tengah gurun. "Allah juga pasti akan memberiku rejeki di mana pun aku berada," kata Syaqiq penuh keyakinan.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!