Kisah Dermina Mendobrak Mitos Pendidikan Vokasi
Oleh Firli Salama Fadhilah
SEKOLAH merupakan hak semua anak Indonesia. Ada banyak pilihan sekolah yang dapat menunjang keahlian anak, contohnya pendidikan vokasi.
Dilansir dari Wikipedia, pendidikan vokasi adalah pendidikan tinggi yang menunjang pada penguasaan keahlian terapan tertentu, meliputi program pendidikan Diploma (diploma 1, diploma 2, diploma 3 dan diploma 4) yang setara dengan program pendidikan akademik.
Pendidikan diploma 4 setara pendidikan strata 1 dengan lulusan pendidikan vokasi akan mendapatkan gelar vokasi. Masyarakat seringkali memandang sebelah mata para lulusan pendidikan vokasi. Mari kita lihat kisah inspiratif yang mendobrak mitos pendidikan vokasi mau jadi apa. Nadiem Makarim membacakan kisah Dermina yang menyentuh dari buku “Mendobrak Mitos: 20 Kisah Inspiratif Pendidikan Vokasi”.
Dermina merupakan anak Kampung Sakartemin, Distrik Fakfak Tengah. Ia harus dihadapkan dengan dua kondisi yang memberatkan. Jika Dermina ke sekolah, dia tidak bisa ke kebun. Jika tidak ke kebun, keluarganya tidak bisa makan. Akhirnya Dermina diperkenankan untuk membawa adiknya ke sekolah ketika ayahnya harus pergi ke kebun. Dermina memiliki impian setelah lulus yaitu membuka usaha konveksi di kampungnya.
Di ruang mini konveksi SMK Yapis, ia memanfaatkan mesin jahit sekolahnya untuk memenuhi pesanan orang. Dari pesanannya, ia mendapat upah kurang lebih seratus ribu rupiah.
Pada akhirnya, SMK Yapis Fakfak memiliki label SMK Yapis Fakfak Collection yang menjual pakaian pria, wanita, anak sampai gaun pesta. Sekolah memiliki harapan besar yaitu melahirkan desainer-desainer lokal yang tentu mengangkat produk lokal.
Menurut kepala SMK Yapis Fakfak, Muhammad Saleh Bungin pihaknya bukan sekadar mengajarkan jahit-menjahit, tetapi mendesain busana karena penjahit sudah ada di pasar-pasar. "Sekolah ingin melahirkan desainer-desainer lokal yang mengangkat produk lokal," ungkapnya.
Itulah salah satu kisah inspiratif vokasi yang menginspirasi Indonesia. Kisah SMK Yapis Fakfak menjadi representasi pendidikan vokasi yang dapat melahirkan produk dan desainer lokal yang hebat, karena potensi anak Indonesia itu keren.***
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!