KHUTBAH JUMAT | Syukur dan Tafakkur di Awal Tahun Baru Islam
Khutbah Pertama
الحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَبِهِ نَسْتَعِينُ عَلَى أُمُورِ الدُّنْيَا وَالدِّينِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِينَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِينُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ صَادِقُ الْوَعْدِ الْأَمِينُ.
فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُونَ، اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ (الحشر: 18).
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Menjadi kewajiban kita semua untuk senantiasa bersyukur atas nikmat yang tak terhitung jumlahnya, termasuk nikmat umur panjang sehingga kita dapat berjumpa dengan tahun baru Islam di bulan Muharram ini. Wujud syukur atas nikmat ini harus kita tancapkan dalam hati, ucapkan melalui lisan, dan wujudkan melalui tindakan agar nikmat yang kita terima senantiasa langgeng dan bertambah oleh Allah SWT.
Kita diperintahkan untuk tidak mengingkari nikmat yang telah Allah anugerahkan, walaupun tampak kecil. Rasulullah SAW mengingatkan dalam haditsnya:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم: انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اَللَّهِ عَلَيْكُمْ (رواه البخاري ومسلم).
Artinya: “Pandanglah orang yang berada di bawah kalian, jangan memandang yang ada di atas kalian, itu lebih patut membuat kalian tidak mengkufuri nikmat Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Wujud syukur ini juga bisa kita wujudkan dengan menguatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Pada momentum Jumat mulia ini, mari kita kuatkan keimanan dan ketakwaan sebagai wujud ketaatan kepada Allah. Dua hal ini paling sering diperintahkan Allah kepada manusia dan termaktub dalam Al-Qur'an, di antaranya surat Al-Hasyr ayat 18:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Khatib akan menyampaikan materi yang mengajak kita semua untuk senantiasa mewarnai umur yang terus berjalan ini dengan bersyukur dan tafakkur. Bertambahnya umur bukan hanya soal angka, tetapi juga momentum untuk merenung dan bersyukur atas segala hal yang telah kita alami dan capai. Dua hal penting untuk mewarnai umur kita adalah syukur dan tafakkur.
Merenung dan berpikir menjadi aktivitas penting di akhir tahun dan awal tahun baru untuk memberikan makna lebih dalam pada bertambahnya umur kita. Tafakkur menjadi waktu untuk berhenti sejenak dan memikirkan perjalanan hidup yang telah kita tempuh, tantangan yang telah kita hadapi, dan pelajaran yang telah kita ambil. Dalam tafakkur, kita mengingat masa lalu, mengevaluasi masa kini, dan merencanakan masa depan.
Rasulullah SAW bersabda dalam hadits riwayat Al-Hakim:
مَنْ كَانَ يَوْمُهُ خَيْرًا مِنْ أَمْسِهِ فَهُوَ رَابِحٌ، وَمَنْ كَانَ يَوْمُهُ مِثْلَ أَمْسِهِ فَهُوَ مَغْبُونٌ، وَمَنْ كَانَ يَوْمُهُ شَرًّا مِنْ أَمْسِهِ فَهُوَ مَلْعُونٌ.
Artinya: “Siapa saja yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka ia (tergolong) orang yang beruntung. Siapa saja yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka ia (tergolong) orang yang merugi. Siapa saja yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin, maka ia orang yang dilaknat (celaka).”
Dengan tafakkur, kita menghargai setiap momen perjalanan hidup dan mengambil hikmahnya. Tafakkur memberikan kesempatan untuk merencanakan masa depan dengan lebih bijaksana dengan memahami apa yang telah terjadi di masa lalu dan apa yang kita inginkan di masa depan.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Setelah kita tafakkur pada nikmat Allah, rasa syukur akan semakin bertambah dalam diri kita. Bersyukur bukan hanya dalam lisan seperti mengucapkan ‘Alhamdulillah’ saja, tetapi syukur yang diharapkan adalah syukur yang menyadarkan diri kita bahwa Allah adalah kekuatan paling besar dalam kehidupan kita. Imam Ghazali dalam Kitab Ihya Ulumiddin mengatakan bahwa yang diharapkan dari syukur adalah menggunakan nikmat dari Allah untuk ketaatan kepada-Nya.
Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa syukur terdiri dari tiga hal. Pertama adalah ilmu, yaitu menyadari bahwa kenikmatan yang kita terima semata-mata dari Allah SWT. Kedua adalah hal atau keadaan dengan menyatakan kegembiraan karena memperoleh kenikmatan. Ketiga adalah amal, yaitu menunaikan sesuatu yang sudah pasti menjadi tujuan dari yang memberi kenikmatan.
Syukur yang tumbuh dalam hati akan menjadikan segala sesuatu terasa ringan dan menyenangkan karena syukur adalah sarana meraih kebahagiaan. Syukur menumbuhkan sifat qanaah dan menjadi hamba yang taat. Rasulullah SAW bersabda dalam hadits riwayat Ibnu Majah:
كُنْ وَرِعًا تَكُنْ أَعْبَدَ النَّاسِ وَكُنْ قَنِعًا تَكُنْ أَشْكَرَ النَّاسِ.
Artinya: “Jadilah orang yang wara’, maka engkau akan menjadi hamba yang paling berbakti. Jadilah orang yang qana’ah, maka engkau akan menjadi hamba yang paling bersyukur.”
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Demikian pentingnya tafakkur dan syukur atas nikmat umur yang telah dianugerahkan Allah kepada kita. Semoga pada momentum tahun baru hijriah kali ini, kita dapat melakukan perenungan dan berpikir untuk menguatkan rasa syukur kita. Semoga nikmat-nikmat yang kita syukuri ini akan senantiasa ditambah oleh Allah SWT. Amin.
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ.
أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ لِلّٰهِ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ ثُمَّ الْحَمْدُ لِلّٰهِ. أَشْهَدُ أنْ لآ إلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ لَا نَبِيّ بَعْدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يٰأَ يُّها الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْياءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عامَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ عٍبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ
@uli/nu.or.idBerita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!