KHUTBAH JUMAT | Pribadi Baru di Tahun Baru Islam
Padahal Nabi pernah mengingatkan melalui sabdanya yang diriwayatkan Imam al-Tirmidzi di dalam kitab Sunan-nya:
أَنَّ رَجُلاً قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ أَيُّ النَّاسِ خَيْرٌ، قَالَ: مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ، قَالَ: فَأَيُّ النَّاسِ شَرٌّ؟ قَالَ: مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَسَاءَ عَمَلُهُ
Artinya: “Sesungguhnya ada seseorang yang bertanya: ‘Wahai Rasulullah, siapakah manusia paling baik?’, Nabi menjawab: ‘Orang yang panjang usianya dan bagus perbuatannya.’ Dia bertanya lagi: ‘Kemudian siapakah manusia paling buruk?’, Nabi menjawab: ‘Orang yang panjang usianya dan buruk perbuatannya.’” (HR. Al-Tirmidzi)
Syekh al-Mubarakfuri saat mensyarahi hadits ini, mengutip perkataan al-Thibi, mengatakan bahwa seluruh waktu dan masa mirip seperti modal bagi seorang pedagang yang dikelola untuk mendapatkan keuntungan. Semakin besar modalnya, maka keuntungannya juga semakin besar. Begitu pula dengan orang yang memanfaatkan usianya dengan memperbanyak amal kebaikan maka telah beruntung dan berhasil. Dan barang siapa yang menyia-nyiakan modalnya maka tidak akan beruntung bahkan mengalami kerugian yang nyata.
Mengapa demikian? Karena kita dianugerahi panjang usia, dikaruniai kesempatan melanjutkan kehidupan, serta diberi waktu yang misteri batasnya, namun malah tidak memanfaatkannya seoptimal mungkin dengan meningkatkan kualitas ketakwaan. Kita merasa cukup dengan kebaikan-kebaikan yang telah kita lakukan sehingga merasa tidak perlu lagi menaikkan levelnya. Di sinilah letak kerugian kita.
Seyogyanya kita tidak boleh merasa puas dan cukup atas perbuatan-perbuatan baik yang sudah dilakukan. Kita perlu selalu meningkatkannya sebagai bentuk syukur atas kesempatan waktu yang diberikan Allah kepada kita untuk menambah nilai ibadah. Sebab itulah yang akan menjadi penilaian Allah untuk memberikan rahmat-Nya kelak di akhirat: semakin berkualitas kebaikannya maka semakin besar peluang mendapatkan rahmat-Nya.
Hadirin jamaah salat Jumat yang dimuliakan Allah
Tentu saja selain perbuatan baik, perbuatan buruk juga tidak kalah penting untuk dievaluasi. Dalam setahun terakhir ini, misalnya, kita seyogyanya merenungkan perbuatan-perbuatan buruk yang pernah dilakukan. Perbuatan buruk di sini entah kepada Allah (artinya melanggar ketentuan-Nya) maupun kepada sesama makhluk (artinya melanggar hak-hak mereka). Begitu juga perbuatan buruk di sini, baik yang disengaja maupun yang tidak sengaja. Semua jenis perbuatan buruk tersebut harus dievaluasi total sehingga kita menancapkan tekad yang bulat dalam sanubari agar tidak mengulangi lagi pada masa yang akan datang. Minimal kita bertekad untuk mengurangi dosa-dosa yang pernah dikerjakan pada masa lalu.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!