KHUTBAH JUMAT | Menutup Ramadan Dengan Apa?
Khutbah Pertama
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَوْضَحَ لَنَا شَرَائِعَ دِيْنِهِ وَمَنَّ عَلَيْنَا بِتَنْزِيلِ كِتَابِهِ وَأَمَدَّنَا بِسُنَّةِ رَسُولِهِ، فَلِلّٰهِ الْحَمْدُ عَلَى مَا أَنْعَمَ بِهِ مِنْ هِدَايَتِهِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى خَيْرِ الْإِنْسَانِ مُبَيِّنًا عَلَى رِسَالَةِ الرَّحْمَنِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ الْمَحْبُوْبِيْنَ جَمِيْعًا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مُوْقِنٍ بِتَوْحِيْدِهِ، مُسْتَجِيْرٍ بِحَسَنِ تَأْيِيْدِهِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّداً عَبْدُهُ الْمُصْطَفَى، وَأَمِيْنُهُ الْمُجْتَبَي وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ إِلَى كَافَةِ الْوَرَى. أَمَّا بَعْدُ
فَيَاعِبَادَ اللّٰهِ، اِتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ. قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الكَرِيْمِ: يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُتِبَ عَلَيۡكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,
Puasa Ramadhan adalah salah satu perintah Allah ta'ala untuk umat muslim. Tujuan utama diwajibkan puasa adalah untuk menjadikan mental takwa pada diri seorang hamba. Karena kita tahu dengan takwalah seorang hamba dapat berharap ridha dan rahmat Allah. Namun begitu kita tentu harus sadar bahwa setiap amal yang kita kerjakan memiliki potensi diterima atau ditolak oleh Allah ta'ala. Maka di sinilah seorang mukmin haruslah mempraktikkan tawakal, yakni menyerahkan diri secara mutlak kepada keputusan Allah ta'ala. Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah Tawakal adalah salah satu bentuk ketakwaan kepada Allah, sebab tawakal merupakan perintah Allah kepada hambanya. Sebagaimana firman-Nya:فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ إِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
Artinya, “Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya". (Surat Ali Imran ayat 159). Ini merupakan ayat yang sangat membahagiakan bagi orang yang bertawakal penuh kepada Allah karena mendapatkan cinta dari sang pencipta. Namun perlu kita perhatikan bahwa tawakal bukan berarti orang itu pasrah tanpa usaha sama sekali. Sebagaimana Syekh Nawawi Al-Bantani menjelaskan ayat ini dalam kitab tafsirnya Marah Labid, jilid 1 halaman 163:وَلَيْسَ التَّوَكُّلُ إِهْمَالَ التَّدْبِيرِ بِالْكُلِّيَّةِ وَإِلَّا لَكَانَ الْأَمْرُ بِالْمُشَاوَرَةِ مُنَافِياً لِلْأَمْرِ بِالتَّوَكُّلِ بَلِ التَّوَكُّلُ هُوَ أَنْ يُرَاعِيَ الْإِنْسَانُ الْأَسْبَابَ الظَّاهِرَةَ وَلَكِنْ لَا يُعَوِّلُ بِقَلْبِهِ عَلَيْهَا بَلْ يُعَوِّلُ بِقَلْبِهِ عَلَى عِصْمَةِ اللَٰهِ وَإِعَانَتِهِ
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!