KHUTBAH JUMAT | Menjaga Lisan dan Jari dari Ghibah di Era Digital
Ilustrasi./visi.news/freepik
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
Artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepadamu membawa suatu berita penting, telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena ketidaktahuan, lalu kamu menyesali perbuatanmu itu.” (QS Al-Hujurat: 6).
Tabayyun berarti memeriksa dan memastikan kebenaran berita sebelum mengambil sikap. Namun, perlu kita ingat bahwa berita yang benar sekalipun tidak selalu boleh disebarkan. Apabila isinya hanya membuka aib, mempermalukan, atau merusak kehormatan seseorang tanpa kepentingan yang dibenarkan, menyebarkannya tetap dapat menjadi ghibah.
Cobalah kita tempatkan diri pada posisi orang yang sedang dibicarakan. Apabila kesalahan itu dilakukan oleh kita atau keluarga kita, tentu kita juga tidak ingin kekeliruan tersebut diumbar dan disebarluaskan kepada khalayak. Orang beriman bukan hanya dituntut untuk berkata benar, tetapi juga dituntut untuk menyampaikan kebenaran dengan cara yang bijaksana dan membawa kemaslahatan.
Ketiga, memilih lingkungan pergaulan yang baik dan menghindari kelompok yang gemar membicarakan keburukan orang lain. Seseorang sangat mudah dipengaruhi oleh lingkungan tempat ia bergaul, termasuk lingkungan pergaulan di dunia digital.
Rasulullah SAW bersabda:
الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
Artinya, “Seseorang akan mengikuti kebiasaan sahabat dekatnya. Karena itu, hendaklah setiap orang memperhatikan dengan siapa ia bersahabat.” (HR Abu Dawud dan At-Tirmidzi).
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!