KHUTBAH JUMAT | Amanah dan Kejujuran
Berbeda dengan manusia. Dengan akal dan kemampuan memilih yang dimilikinya, manusia justru menerima amanah tersebut. Ia merasa mampu, karena bisa membedakan antara berbagai pilihan dan menentukan mana yang benar dan mana yang salah. Namun di sinilah letak masalahnya. Manusia mungkin tampak kuat saat menerima tanggung jawab, tapi sering kali lalai dan lemah ketika harus menunaikannya. Karena itu, Allah menyebut manusia sebagai makhluk yang sangat zalim dan sangat bodoh. Syekh Sya’rawi mengatakan:
لَقَدْ ظَلَمَ الْإِنْسَانُ نَفْسَهُ حَيْثُ حَمَلَ الْأَمَانَةَ وَلَمْ يُفِ بِهَا، فَلِذَلِكَ فَهُوَ ظَلُوْمٌ. وَهُوَ جَهُوْلٌ لِأَنَّهُ قَدَّرَ وَقْتَ التَّحَمُّلِ، وَلَمْ يُقَدِّرْ وَقْتَ الْأَدَاءِ
Artinya, “Manusia telah menzalimi dirinya sendiri karena memikul amanah tetapi tidak menunaikannya. Oleh sebab itu, ia (disebut sebagai makhluk) yang sangat zalim. Ia juga bodoh karena hanya mempertimbangkan kemampuannya saat menerima beban, tetapi tidak memikirkan kesanggupannya ketika tiba waktunya untuk melaksanakan (amanah tersebut).”
Oleh sebab itu, tanggung jawab atas amanah, khususnya di bidang kekuasaan dan jabatan publik, tidak dapat hanya dibebankan pada moral pribadi semata. Kita sebagai masyarakat beriman dan peduli terhadap keadilan harus ikut andil dalam mengawal dan memastikan amanah itu dijalankan dengan sebaik-baiknya. Dalam konteks ini, pengawasan sistematis serta partisipasi aktif publik menjadi keharusan yang tidak dapat kita ditawar.
Kita tidak bisa hanya berharap bahwa para pemimpin akan berlaku adil dan jujur tanpa ada mekanisme yang menuntut akuntabilitas dan transparansi. Jika seorang pejabat bertindak zalim karena tidak ada yang mengingatkan atau mengawasi, maka kelalaian itu tidak hanya semata tanggung jawabnya sendiri, melainkan juga kegagalan kolektif kita dalam menjaga amanah yang telah dibebankan kepada manusia.
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Setelah memahami betapa beratnya amanah yang telah dipikul oleh manusia, penting bagi kita untuk menyoroti salah satu kunci utama dalam menjaga amanah tersebut, yaitu kejujuran. Kejujuran merupakan fondasi utama dalam menunaikan amanah yang dipercayakan kepada kita. Tanpa kejujuran, amanah akan mudah dikhianati; tanggung jawab akan diselewengkan, dan kepercayaan akan runtuh.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!