KHUTBAH IDUL ADHA | Belajar dari Nabi Ismail
Kisah ini sebagaimana diabadikan dalam Al-Qur’an surat As-Sffat, Allah swt mengisahkan perkataan Nabi Ibrahim kepada anak semata wayangnya setelah mengalami mimpi berkali-kali datang kepadanya. Dalam Al-Qur’an diceritakan:
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يابُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَى
Artinya, “Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, ‘Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!’”.
Mendengar pernyataan dan pertanyaan ayahnya, dengan penuh ketegaran jiwa dan kesabaran, Nabi Ismail yang masih bocah itu menjawab:
قَالَ ياأَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤمَرُ سَتَجِدُنِي إِن شَآءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
Artinya, “Dia (Ismail) menjawab, ‘Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.” (QS As-Saffat: 102).
Ma’asyiral Muslimin jamaah shalat Idul Adha yang dirahmati Allah.
Sebagai sosok hamba yang taat, Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail melakukan apa yang telah diperintahkan kepada keduanya. Dengan hati yang sedih dan raut wajah yang dipenuhi linangan air mata, keduanya harus sama-sama ikhlas dan ridha demi memenuhi perintah Tuhannya, bahkan Nabi Ibrahim harus mengurbankan anaknya sendiri, disembelih di hadapannya dan dilakukan dengan tangannya sendiri. Imam Fakhruddin ar-Razi dalam salah satu karyanya, Tafsir Mafatih al-Ghaib, mengisahkan percakapan keduanya ketika sudah sepakat untuk melakukan penyembelihan.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!