Kenapa Selat Bali jadi Sering Makan Korban ?
Beberapa pengamat transportasi laut menyebut bahwa sistem peringatan dini dan pengawasan operasional kapal di lintasan Ketapang–Gilimanuk masih belum optimal. Ditambah lagi, usia armada kapal yang sudah cukup tua dan intensitas operasional yang tinggi menjadi tantangan tersendiri dalam menjaga standar keselamatan pelayaran.
Selat Bali memang menjadi urat nadi penghubung antara Jawa dan Bali, dengan ratusan kapal beroperasi setiap harinya. Namun, banyak pihak mendesak adanya evaluasi menyeluruh terhadap standar keselamatan kapal, infrastruktur pelabuhan, dan kesiapsiagaan petugas di lapangan. Perlu ada peningkatan sistem deteksi dini dan inspeksi ketat, khususnya bagi kapal-kapal penumpang dan pengangkut kendaraan.
Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan diminta segera mengambil langkah tegas untuk mencegah insiden serupa. Revisi terhadap aturan kelayakan laut, pembatasan usia kapal operasional, serta peningkatan pelatihan kru kapal menjadi hal mendesak. Tanpa perbaikan sistemik, Selat Bali dikhawatirkan akan terus menjadi "jalur maut" di perairan Indonesia.
Tragedi tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya bukan hanya duka bagi para korban, tetapi juga peringatan keras bagi semua pihak terkait keselamatan laut. Di tengah meningkatnya mobilitas antarpulau, keselamatan penumpang seharusnya menjadi prioritas utama yang tidak boleh dikompromikan.
@uli
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!