Ketua PN Tangerang Promosi, Seorang Hakim Beralih Tugas ke Bandung 28 Aug 2026 Garis Polisi di Lahan Sengketa Gumuk Lesung Hilang, Warga Minta Kejelasan 28 Aug 2026 ASAI Hotels Buka di Malaysia, Terbesar di Dunia 28 Aug 2026 Daging Ayam Tembus Rp40 Ribu, Jadi Perhatian Pemkot Bandung 28 Aug 2026 Cuaca Bandung Jumat 28 Agustus 2026, Cerah hingga 31 Derajat Celsius 28 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kabupaten Sumedang Hari Ini, Jumat 28 Agustus 2026 28 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kota Cimahi Hari Ini, Jumat 28 Agustus 2026 28 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kota Bandung Hari Ini, Jumat 28 Agustus 2026 28 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kabupaten Bandung Hari Ini, Jumat 28 Agustus 2026 28 Aug 2026 Amin Ak: APBN 2027 Harus Perkuat Sektor Riil dan UMKM 27 Aug 2026 Ketua PN Tangerang Promosi, Seorang Hakim Beralih Tugas ke Bandung 28 Aug 2026 Garis Polisi di Lahan Sengketa Gumuk Lesung Hilang, Warga Minta Kejelasan 28 Aug 2026 ASAI Hotels Buka di Malaysia, Terbesar di Dunia 28 Aug 2026 Daging Ayam Tembus Rp40 Ribu, Jadi Perhatian Pemkot Bandung 28 Aug 2026 Cuaca Bandung Jumat 28 Agustus 2026, Cerah hingga 31 Derajat Celsius 28 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kabupaten Sumedang Hari Ini, Jumat 28 Agustus 2026 28 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kota Cimahi Hari Ini, Jumat 28 Agustus 2026 28 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kota Bandung Hari Ini, Jumat 28 Agustus 2026 28 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kabupaten Bandung Hari Ini, Jumat 28 Agustus 2026 28 Aug 2026 Amin Ak: APBN 2027 Harus Perkuat Sektor Riil dan UMKM 27 Aug 2026

Kenapa Selat Bali jadi Sering Makan Korban ?

ED
Jumat, 4 Juli 2025 | 07:14 WIB
Bagikan
Kenapa Selat Bali jadi Sering Makan Korban ?

VISI.NEWS | BALI - Tragedi laut kembali mengguncang perairan Indonesia. Pada Rabu malam, 2 Juli 2025, Kapal Motor Penumpang (KMP) Tunu Pratama Jaya tenggelam saat melintasi Selat Bali, tepatnya di lintasan Ketapang (Banyuwangi) – Gilimanuk (Bali). Insiden ini menambah panjang daftar kecelakaan laut di salah satu jalur pelayaran tersibuk di Indonesia. Kejadian tersebut menimbulkan kekhawatiran publik terhadap keselamatan transportasi laut, khususnya di kawasan Selat Bali.

Berdasarkan data awal, kapal membawa 65 orang yang terdiri dari 53 penumpang dan 12 kru kapal, serta 22 unit kendaraan. Hingga kini, proses evakuasi dan pencarian korban masih terus dilakukan oleh tim SAR gabungan. Beberapa penumpang dilaporkan selamat berkat bantuan nelayan dan kapal lain yang kebetulan melintas, namun angka korban jiwa masih dalam pendataan resmi.

KMP Tunu Pratama Jaya merupakan kapal jenis Ro-Ro (Roll-on/Roll-off) yang dirancang untuk mengangkut kendaraan dan penumpang. Kapal ini dibuat pada tahun 2010 oleh galangan Kalimas di Balikpapan dan telah beroperasi lebih dari satu dekade. Dari sisi teknis, kapal ini memiliki panjang sekitar 63–74 meter, lebar 12 meter, dan bobot kotor antara 734–792 GT, dengan kecepatan maksimum hanya 7,1 knot.

Kepala KSOP Kelas III Tanjungwangi, Purgana, menyatakan bahwa kapal tersebut dalam kondisi layak beroperasi secara administratif. Dokumen perizinan, sertifikasi keselamatan, serta pemeriksaan berkala dinyatakan lengkap dan berlaku. Namun, berdasarkan keterangan awal, kerusakan mesin di ruang mesin menyebabkan pemadaman listrik total (blackout) dan membuat kapal kehilangan kendali sebelum akhirnya tenggelam.

Insiden ini menyoroti kembali betapa rawannya Selat Bali terhadap kecelakaan laut. Dalam rentang waktu 11 hari terakhir saja, tercatat tiga kecelakaan terjadi di jalur ini. Selain padatnya lalu lintas kapal, faktor cuaca ekstrem, kurangnya fasilitas pemantauan, hingga potensi kelalaian operasional disebut menjadi penyebab utama meningkatnya insiden laut di wilayah ini.

Beberapa pengamat transportasi laut menyebut bahwa sistem peringatan dini dan pengawasan operasional kapal di lintasan Ketapang–Gilimanuk masih belum optimal. Ditambah lagi, usia armada kapal yang sudah cukup tua dan intensitas operasional yang tinggi menjadi tantangan tersendiri dalam menjaga standar keselamatan pelayaran.

Selat Bali memang menjadi urat nadi penghubung antara Jawa dan Bali, dengan ratusan kapal beroperasi setiap harinya. Namun, banyak pihak mendesak adanya evaluasi menyeluruh terhadap standar keselamatan kapal, infrastruktur pelabuhan, dan kesiapsiagaan petugas di lapangan. Perlu ada peningkatan sistem deteksi dini dan inspeksi ketat, khususnya bagi kapal-kapal penumpang dan pengangkut kendaraan.

Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan diminta segera mengambil langkah tegas untuk mencegah insiden serupa. Revisi terhadap aturan kelayakan laut, pembatasan usia kapal operasional, serta peningkatan pelatihan kru kapal menjadi hal mendesak. Tanpa perbaikan sistemik, Selat Bali dikhawatirkan akan terus menjadi "jalur maut" di perairan Indonesia.

Tragedi tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya bukan hanya duka bagi para korban, tetapi juga peringatan keras bagi semua pihak terkait keselamatan laut. Di tengah meningkatnya mobilitas antarpulau, keselamatan penumpang seharusnya menjadi prioritas utama yang tidak boleh dikompromikan.

@uli

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.