Kementerian PPN: Regionalisasi Pangan Kunci Ketahanan Pangan Nasional
ED
Editor
Shinta Dewi P
Minggu, 27 Oktober 2024 | 06:00 WIB
VISI.NEWS | JAKARTA - Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) menegaskan bahwa penerapan regionalisasi pangan bisa menjadi solusi untuk meningkatkan ketahanan pangan di tingkat nasional. Menurut konsep ini, setiap daerah akan memanfaatkan keunggulan komparatifnya dalam menghasilkan berbagai produk pertanian. Koordinator Bidang Pangan Bappenas, Ifan Martino, menjelaskan bahwa sistem regionalisasi ini dapat memperkuat ketahanan pangan di Indonesia, terutama saat menghadapi berbagai tantangan seperti bencana alam dan wabah kesehatan seperti COVID-19.
"Regionalisasi itu bagaimana sistem pangan kita itu sifatnya lebih lokal, lebih kecil-kecil lagi, sehingga ketika ada shock tadi, dia tidak akan terganggu, sudah punya sistem sendiri," ujar Ifan dalam Festival Jejak Pangan Lestari, di Jakarta, Jumat (25/10/2024).
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) memiliki rencana untuk mengimplementasikan sistem regionalisasi sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan di seluruh Indonesia. Setiap daerah diharapkan fokus pada pengembangan komoditas pangan yang sesuai dengan potensi lokal mereka. Sebagai ilustrasi, Pulau Jawa dinilai ideal untuk menanam padi, jagung, dan kedelai.
"Potensi pangan yang potensial secara budidaya, dan juga secara konsumsi masyarakat itu bisa diterima. Nah, hal-hal yang kayak gini yang mau kita coba kembangkan, seperti apa sih bentuknya ekoregionalisasi sistem pangan itu, ini masih di-exercise terus di-exercise, kajian yang disusun oleh KSPL juga kita gunakan," lanjutnya.
Kepala Sekretariat Koalisi Sistem Pangan Lestari, Gina Karlina, mengungkapkan bahwa Indonesia memiliki berbagai jenis pangan lokal yang kaya akan kandungan gizi, bahkan setara dengan beras.
"Jadi memang sebenarnya banyak potensi lokal, yang perlu kita gali kembali, dan kita kaji kembali juga, terkait dengan kandungan izi dan sebagainya," ucap Gina.
Menurut Gina bahwa ketergantungan pada konsumsi beras tidak hanya berdampak negatif pada ketahanan pangan, tetapi juga dapat meningkatkan risiko penyakit diabetes. Ia menjelaskan bahwa nasi mengandung kadar gula yang tinggi dan berpotensi memicu penyakit diabetes jika dikonsumsi dalam jumlah berlebihan.
"Angka diabetes memang saat ini cukup naik. Jadi, sebenarnya banyak alternatif pangan lokal yang lainnya, yang bisa menjawab permasalahan itu," tutupnya. @ffr
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!