Keluarnya AS dari Perjanjian Paris Hambat Transisi Energi Indonesia
Editor
Desi Rossilawati
Kamis, 23 Januari 2025 | 20:05 WIB
VISI.NEWS | BANDUNG - Langkah Amerika Serikat (AS) keluar dari Perjanjian Paris diprediksi membawa dampak signifikan terhadap komitmen negara-negara maju lainnya dalam memberikan pendanaan untuk proyek iklim. Sahara, Research Associate CORE Indonesia, mengungkapkan bahwa langkah ini dapat mengurangi aliran dana yang dibutuhkan Indonesia untuk proyek transisi energi yang sangat mahal.
Sebagai negara berkembang, Indonesia menghadapi tantangan besar dalam mengelola biaya transisi energi.
"Indonesia sebagai negara berkembang memiliki keterbatasan biaya untuk mengeksekusi proses transisi energi akan terdampak paling besar," jelas Sahara yang juga merupakan Direktur International Trade Analysis and Policy Studies (ITAPS) Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB University itu.
Sahara menjelaskan bahwa tanpa dukungan pendanaan memadai, terutama dari donor utama seperti AS, proses ini berisiko terhambat.
"Berkurangnya pendanaan perubahan iklim tersebut dapat menyebabkan proyek transisi energi tersebut menjadi terhambat," ujar Sahara.
Pendanaan dari AS sebelumnya memainkan peran penting dalam pengendalian perubahan iklim global. Dengan ditariknya AS dari Perjanjian Paris untuk kedua kalinya, pengurangan dana tersebut akan memengaruhi ambisi pengurangan emisi gas rumah kaca (GRK). Menurut Michael Gerrard dari Columbia Law School, langkah ini semakin membahayakan target pembatasan kenaikan suhu global.
Di sisi lain, Sahara menyoroti potensi kerja sama dengan China sebagai alternatif sumber pendanaan. Namun, hal ini tergantung pada sejauh mana Beijing menunjukkan komitmen terhadap upaya penanganan perubahan iklim.
"Jika ya (China punya komitmen untuk penanganan perubahan iklim), bisa menjadi sumber pendanaan (melalui kerja sama dengan Indonesia)," tambah Sahara.
Pengamat iklim global menilai keputusan AS akan memberikan dampak buruk secara luas, baik pada ambisi iklim global maupun kepercayaan antarnegara.
Paul Watkinson, mantan negosiator iklim, mengingatkan bahwa tindakan AS dapat memengaruhi komitmen negara-negara lain untuk terus melawan perubahan iklim.
"Itu jelas berdampak pada yang lain. Maksud saya, mengapa yang lain harus terus memperbaiki keadaan jika salah satu pemain kunci sekali lagi meninggalkan ruangan?" katanya.
Sebagai penghasil emisi GRK terbesar kedua setelah China, AS memiliki tanggung jawab besar terhadap kesuksesan Perjanjian Paris. Namun, dengan keputusan ini, ambisi global untuk memangkas emisi menghadapi tantangan yang semakin besar. @ffr
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!