Kelompok Jalan Teater akan Gelar Main-Mind di 3 Museum Kota Bandung
Garapan ini juga diharapkan dapat mengeksplorasi praktik-praktik pembelajaran di museum yang berpusat pada pengunjung.
"Konkretnya, pertunjukan yang berlangsung tidak hanya untuk ditonton, tetapi juga menunjukkan bahwa pedagogi alternatif museum sedang dipraktikkan. Sebagai sarana pedagogi alternatif, Main-Mind di Museum mengusung empat konsep pertunjukan," ungkapnya.
Masih kata Sahlan, dimulai dari konsep pertama, interpretasi orang pertama, di mana fasilitator memerankan tokoh tertentu, misalnya tokoh sejarah, dan berinteraksi dengan pengunjung museum melalui perannya.
Kedua, pertunjukan teater. Tim Main-Mind di Museum membuat pertunjukan dengan latar waktu tertentu, misalnya kehidupan di Indonesia pada tahun 1950-an (untuk konteks Museum Konferensi Asia-Afrika) dengan tujuan agar fasilitator dapat membantu pengunjung memahami peristiwa sekaligus masalah-masalah yang berlangsung pada periode tersebut juga memaknai relevansinya dengan situasi saat ini.
Ketiga, pemeragaan kembali peristiwa sejarah. Bentuk ini dapat menjadi rekreasi teatrikal dari suatu peristiwa bersejarah, dan prosesnya melibatkan sejumlah pengunjung.
Keempatnya permainan peran. Bentuk ini dikenal sebagai interpretasi orang kedua, fasilitator dan penonton bekerja sama memainkan perannya.
Sahlan menekankan, aspek peran adalah elemen penting dalam pertunjukan Main-Mind di Museum. Di sini, kerja pemeranan lebih tentang memainkan, daripada ‘menjadi’, dan mengandalkan improvisasi ketimbang hapalan teks tertulis.
Sementara itu ia mengatakan teknisnya, fasilitator, dan pengunjung memilih suatu peran dan memainkannya itu dalam situasi imajinatif. Dalam pertunjukan ini, pemeran (fasilitator dan pengunjung) lebih dari sekadar aktor.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!