Kecintaan Terhadap Demokrasi yang Masif di Indonesia
Perubahan kontroversial tersebut menyebabkan Ketua KPU dan para komisionernya dianggap melanggar etika oleh Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu. Hal ini menimbulkan keraguan terhadap integritas pemilu dan menimbulkan keraguan terhadap hasil pemilu. Indonesia termasuk negara dengan tingkat ketidakpercayaan terhadap pemilu yang tinggi. Selain itu, banyak pihak yang mengkhawatirkan netralitas militer, polisi, dan pegawai negeri sipil.
Peraturannya menyatakan bahwa mereka tidak boleh memihak calon presiden atau wakil presiden tertentu. Namun, di balik layar, Widodo menggunakan wewenangnya untuk memaksa mereka mendukung putranya.
Persoalan lainnya adalah pendistribusian bantuan sosial (Bansos) yang tidak biasa yang diambil dari APBN. Hal ini dinilai tidak etis dan menuai protes dari berbagai pihak, termasuk banyak universitas terkemuka.
Kekhawatiran lainnya adalah meningkatnya polarisasi di media sosial, logistik pemilu, keterwakilan perempuan, dan penyuapan politik. Widodo berusaha keras untuk memastikan pemilu ini terselesaikan setelah satu putaran karena jika digelar dalam dua putaran (yaitu jika tidak ada satu pun dari tiga pasangan calon yang mencapai 50 persen suara), Prabowo dan Gibran diperkirakan akan kalah.
Jika pemilu dilanjutkan ke putaran kedua, Indonesia akan belajar bagaimana koalisi pemerintahan dapat dibentuk. Di luar hiruk pikuk pemilu presiden, pemilu legislatif juga menjadi isu yang menarik karena banyak calon legislatif dari partai koalisi yang tidak berkampanye untuk calon presiden. Memang benar, para kandidat di daerah terpencil tidak menyadari bahwa putra presiden akan mencalonkan diri.
Kalangan muda (di bawah 40 tahun), yang diperkirakan mencapai 55 persen pemilih tahun ini, mendapatkan sebagian besar informasi mengenai kandidat melalui media sosial.
Para kandidat memahami hal ini dengan baik dan berinvestasi secara signifikan untuk mendapatkan suara. Namun apakah para pemilih muda terkesan dengan kinerja pemerintah saat ini?
Jajak pendapat pada akhir bulan Januari menunjukkan bahwa Prabowo Subianto/Gibran Raka memimpin tetapi tidak jauh berbeda dengan Anies Baswedan/Muhaimin Iskandar dan Ganjar Pranowo/Mahfud MD yang bersaing ketat.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!