Kecintaan Terhadap Demokrasi yang Masif di Indonesia

ED
Rabu, 14 Februari 2024 | 05:35 WIB
Bagikan
Kecintaan Terhadap Demokrasi yang Masif di Indonesia

Oleh Ria Ernunsari (360info)

CINTA biasanya mengudara di Hari Valentine. Bagi masyarakat Indonesia pada tanggal 14 Februari ini, ini adalah kesempatan untuk menunjukkan kecintaan mereka terhadap demokrasi ketika mereka memberikan suara dalam pemilu untuk memilih presiden dan wakil presiden baru, serta anggota legislatif di tingkat nasional, provinsi, dan kabupaten.

Jumlah pemilih dalam pemilu ini sangat besar: terdapat lebih dari 204 juta pemilih yang memenuhi syarat, lebih dari 300.000 orang dari 18 partai politik bersaing untuk mendapatkan lebih dari 20.000 kursi di badan legislatif. Ada tiga pasangan calon presiden dan wakil presiden.

Calon presiden pemilu Indonesia

Satu orang yang tidak mencalonkan diri kali ini adalah presiden saat ini, Joko Widodo. Namun bukan berarti dia tidak akan berpengaruh pada hasilnya.

Ide perpanjangan masa jabatan presiden sempat disebarkan oleh tim Widodo. Konstitusi Indonesia hanya memperbolehkan presiden dan wakil presiden menjabat dua periode berturut-turut. Widodo ingin masa jabatannya diperpanjang karena Covid-19. Hal ini ditentang oleh partainya sendiri.

Karena tidak dapat mencalonkan diri lagi, Widodo memberikan dukungannya kepada musuh lamanya, Prabowo Subianto, yang ia kalahkan pada tahun 2014 dan 2019.  Ia membenarkan hal ini dengan menyatakan bahwa presiden diperbolehkan untuk mendukung kandidat yang mencalonkan diri dan presiden dapat berkampanye meskipun ia tidak mencalonkan diri. berlari.

Pelantikan putra Widodo, Gibran, sebagai pasangan calon wakil presiden Prabowo, meskipun tidak memenuhi kriteria usia calon presiden di Indonesia, secara luas dipandang sebagai upaya untuk memperluas pengaruhnya di luar masa kepresidenannya sendiri. Perubahan aturan usia ini, yang diawasi oleh kakak ipar Widodo,  memicu pemecatan Ketua Mahkamah Konstitusi.

Perubahan kontroversial tersebut menyebabkan Ketua KPU dan para komisionernya dianggap melanggar etika oleh Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu. Hal ini menimbulkan keraguan terhadap integritas pemilu dan menimbulkan keraguan terhadap hasil pemilu. Indonesia termasuk negara dengan tingkat ketidakpercayaan terhadap pemilu yang tinggi. Selain itu, banyak pihak yang mengkhawatirkan netralitas militer, polisi, dan pegawai negeri sipil.

Peraturannya menyatakan bahwa mereka tidak boleh memihak calon presiden atau wakil presiden tertentu. Namun, di balik layar, Widodo menggunakan wewenangnya untuk memaksa mereka mendukung putranya.

Persoalan lainnya adalah pendistribusian bantuan sosial (Bansos) yang tidak biasa yang diambil dari APBN. Hal ini dinilai tidak etis dan menuai protes dari berbagai pihak, termasuk banyak universitas terkemuka.

Kekhawatiran lainnya adalah meningkatnya polarisasi di media sosial, logistik pemilu, keterwakilan perempuan, dan penyuapan politik. Widodo berusaha keras untuk memastikan pemilu ini terselesaikan setelah satu putaran karena jika digelar dalam dua putaran (yaitu jika tidak ada satu pun dari tiga pasangan calon yang mencapai 50 persen suara), Prabowo dan Gibran diperkirakan akan kalah.

Jika pemilu dilanjutkan ke putaran kedua, Indonesia akan belajar bagaimana koalisi pemerintahan dapat dibentuk. Di luar hiruk pikuk pemilu presiden, pemilu legislatif juga menjadi isu yang menarik karena banyak calon legislatif dari partai koalisi yang tidak berkampanye untuk calon presiden. Memang benar, para kandidat di daerah terpencil tidak menyadari bahwa putra presiden akan mencalonkan diri.

Kalangan muda (di bawah 40 tahun), yang diperkirakan mencapai 55 persen pemilih tahun ini, mendapatkan sebagian besar informasi mengenai kandidat melalui media sosial.

Para kandidat memahami hal ini dengan baik dan berinvestasi secara signifikan untuk mendapatkan suara. Namun apakah para pemilih muda terkesan dengan kinerja pemerintah saat ini?

Jajak pendapat pada akhir bulan Januari menunjukkan bahwa Prabowo Subianto/Gibran Raka memimpin tetapi tidak jauh berbeda dengan Anies Baswedan/Muhaimin Iskandar dan Ganjar Pranowo/Mahfud MD yang bersaing ketat.

Tidak ada jaminan pemilu akan berlangsung hanya dalam satu putaran. Kecintaan terhadap politik benci di Indonesia bisa berlanjut hingga 26 Juni untuk putaran kedua.***

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.