Karya Seni tentang Identitas Gender Raih Penghargaan UOB Painting of the Year ke-15
- Karya seni yang menggambarkan pembentukan identitas gender melalui sejarah dan budaya memenangkan penghargaan 15th UOB Painting of the Year (Indonesia).
VISI.NEWS | JAKARTA – UOB Indonesia menganugerahkan penghargaan 15th UOB Painting of the Year (POY) (Indonesia) dari kategori Perupa Profesional kepada Eddy Susanto atas lukisannya yang berjudul "Kuasa dalam Setara". Perupa berusia 50 tahun asal Yogyakarta ini menggambarkan eksplorasi sejarah dan budaya akan pemahaman identitas pria dan wanita di atas kulit lembu transparan, lembaran akrilik, dan pena gambar.
Terinspirasi oleh ukiran vanitas karya Willem Isaacsz van Swanenburg pada tahun 1608 dan teks filsafat Jawa Serat Sastrajendra Hayuningrat, karya seni ini memadukan alegori visual Singapore Australia Brunei Canada China France Hong Kong India Indonesia Japan Malaysia Myanmar Philippines South Korea Taiwan Thailand United Kingdom USA Vietnam ## RESTRICTED ## Eropa dengan kosmologi Jawa untuk mendalami bagaimana kekuasaan, kesetaraan, dan identitas saling terkait melalui lensa budaya dan sejarah.
Eddy mengatakan, "Karya ini merefleksikan bagaimana sejarah dan keyakinan membentuk pemahaman tentang identitas kita. Dengan meleburkan tradisi vanitas yang merefleksikan kerapuhan hidup dengan filosofi Jawa, karya ini mengundang masyarakat untuk memaknai bagaimana konsep kekuasaan dan kesetaraan terus didefinisikan ulang dalam kesadaran budaya kita, menjadi dialog berkelanjutan melampaui perbedaan budaya dan konteks filosofi."
Panel juri UOB POY (Indonesia) ke-15 terdiri dari Dr Agung Hujatnika, Ketua Dewan Juri, Kurator Independen dan Dosen ITB; Alia Swastika, Kurator dan Direktur Biennale Jogja Foundation, serta Venus Lau, Direktur Museum MACAN Jakarta.
Agung Hujatnika mengatakan, " "Kuasa dalam Setara" menghadirkan kedalaman konsep dan ketepatan teknis yang kuat. Sang perupa menunjukkan keterampilan yang matang dalam teknik pelapisan, kolase, dan gambar detail, serta mengintegrasikan aksara Jawa yang menghadirkan refleksi kosmologis. Dengan memadukan tradisi visual Eropa dan Jawa, karya ini membangun dialog halus antara budaya, sejarah, dan keyakinan. Karya ini mencerminkan kematangan dan pemikiran mendalam sang perupa terhadap sejarah dunia, sekaligus kedekatannya dengan budaya lokal Indonesia melalui penggunaan kulit lembu yang digunakan secara tradisional sebagai materi utama seni wayang kulit."
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!