KAJIAN | Tabarruk

ED
Kamis, 6 Februari 2025 | 04:35 WIB
Bagikan
KAJIAN | Tabarruk

Oleh Gus Basir

SETELAH kita mengkaji permasalahan tawassul, tahlilan, ziarah kubur dan berbagai permasalahannya, dalam bab ini kita membahas tabarruk atau ngambil berkah yang sering pula dipersepsikan sebagai ajaran agama yang sesat, bid'ah dan kental nuansa kesyirikan oleh sebagian orang.

Tabarruk berasal dri kata برك dengan masdar البركة sementara barakah sendiri memiliki dua arti, yaitu :

a. Menetap, yang berasal dari ungkapan ;

برك البعير اذا انا في الموضع فلزمه

"Baraaaka al-ba'ar ( yang berarti), ketika seekor unta menderum di suatu tempat, lalu mendiaminya."

b. Bertambah atau berkembang

Bermula dari dua makna tersebut, barakah kemudian menjadi istilah bagi sebuah keberuntungan, seperti diungkapkan olehal-Fara' seorang tokoh besar bahasa dan gramatika Arab asal kota kuffah, irak;

البركة السعادة وبه فسر قوله تعالى ورحمة الله وبركاته عليكم اهل البيت لأن من اسعده الله تعالى بما اسعد به النبي صلى الله عليه وسلم فقد نال السعادة المباركة الدائمة.

"Barakah adalah keberuntungan, dengan arti tersebut firman Allah ta'ala. Rahmatullahi wa barakatuhu 'alaikum halal bait" ditafsiri sebab, orang yang diberi keberuntungan oleh Allah ta'ala dengan keberuntungan yang diberikanNya kepada Nabi SAW maka niscaya ia telah memperoleh keberuntungan yang penuh barakah dan abadi."

Barakah bisa pula berarti sebagai suatu kebaikan ilahi yang secara kontinyu ada dalam suatu perkara, sebagai mana ungkapan seorang sarjana bahasa Abu al-Qasim al-Asbihan, Iran.

البركة ثبوت الخير الإلهي في الشيء.

"Berkah adalah tetapnya kebaikan ilahi dalam suatu perkara."

Dengan makna tersebut, maka barakah termasuk buah amal shaleh, dengannya Allah SWT mewujudkan harapan, menghindarkan bahaya dan Allah SWT membukakan kunci-kunci kebajikan.

Tujuan hukum tabarruk

Tabarruk adalah salah satu pola keberagamaan dan cara berdoa orang Islam dari zaman Nabi SAW sampai sekarang serta tabarruk termasuk salah satu anjuran syari'at dalam firman Allah SWT :

ياايهاالذين آمنوا اتقوا الله وابتغوا اليه الوسيلة وجهدوا في سبيله لعلكم تفلحون

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah SWT, dan carilah washilah (amal atau sebab) yang mendekatkan diri kepadaNya, dan berjihadlah pada jalanNya, supaya kamu mendapat keberuntungan."( QS. Al-Maidah: 35 )

Begitu pun ayat yang mengisahkan tabarruk Nabi Yusuf AS dengan baju gamisNya untuk menyembuhkan mata sang ayahanda yang sempat buta, Nabi Ayyub AS:

اذهبوا بقميص هذا فالقوه على وجه ابى يأت بصيرا واتونى باهلكم أجمعين.

"Pergilah kamu dengan membawa baju gamisku, lalu letakkanlah pada wajah ayahku, nanti ia akan melihat kembali; dan bawalah keluargamu semuanya kepadaku." (QS. Yusuf: 93).

Ataupun ayat tentang kisah kaum Tsamud, Umat Nabi Shaleh AS;

ولقذ كذب اصحب الخجر المرسلين

"Dan Sesungguhnya penduduk-penduduk al-Hijr telah mendustakan rasul-rasul." ( QS. Al- Hijr: 80 )

Mengomentari ayat tersebut Imam al-Qurthubi dalam tafsirnya berkata:

ففي هذه الآية التي بين الشارع حكمها وأوضح أمرها ثمان مسائل استقبلها العلماء ...وخامسها أمره صلى الله عليه وسلم ان يستقوا من بءر( bi ri )الناقة دليل على التبرك باثار الأنبياء والصالحين وان تفادمت اعصارهم وخفيت اثارهم.

"Kemudian dalam ayat ini, yang hukum dan perkaranya telah dijelaskan Nabi, ada delapan masalah yang dirumuskan oleh ulama...dan yang ke lima adalah perintah Nabi SAW kepada para sahabat untuk mengambil air dari sumur ( yang didekati ) unta, Menjadi dalil atas tabarruk dengan atsar para Nabi dan shalihin, kendati masa mereka telah lewat dan atsarnya sudah tidak jelas."

Maksud perintah Nabi SAW kepada sahabat diatas adalah perintah beliau dalam hadits:

عن نافع ان عبد الله بن عمر اخبره ان الناس نزلوا مع الرسول الله صلى الله عليه وسلم على الحجر ارض ثمود فاستقوا من ابارها وعجنوا به العجين فامرهم رسول الله صلى الله عليه وسلم ان يهريقوا ما اتقوا ويعلفوا الإبل العجين وامرهم ان يستقوا من البءر التي كانت تردها الناقة.

"Dari Nafi' , sungguh Abdullah bin Umar bercerita tentang rombongan yang beristirahat bersama Rasulillah SAW didepan Hijr(desa yang terletak diantara kota madinah dan syam ) bumi kaum Tsamud, kemudian mereka mengambil air dari sumur-sumurnya dan membuat adonan makanan dengannya. Lalu Rasulullah SAW memerintahkan mereka agar menumpahkan air yang telah diambil dan memberi makan unta dengan adonan makanan tersebut, serta memerintahkan mereka mengambil air dari sumur yang didekati unta."( HR. Muslim )

Maka seperti halnya dalam tawassul, orang-orang shalih ditabarruki sebab khusnudzan atas keistimewaan dan kedekatan mereka disisi Allah SWT. Petilasan, dan kuburan semisal, dicari barakahnya sebab kemuliaan orang shalih yang pernah membangun atau tapak tilas,menyinggahi atau menempatinya. Sebuah benda dijadikan media tabarruk sebab keagungan pemiliknya, seperti sampul mushaf al-Qur'an yang mempunyai barakah, wajib dimuliakan dan haram dihina, tiada lain karena telah menjadi sampul kitab mulia.

Untuk itu contoh ringkas dalil tabarruk dan perakteknya dari Nabi SAW supaya hati kita mantap dan hilang akan keraguan dan kekhawatiran terjerumus pada ke syirikan

Tabarruk dengan pakaian Rasulullah

Asma' putri sahabat Abu Bakar as-Shidik RA, mewarisi jubah Rasulillah SAW dari saudaranya, yakni Sayyidah Aisyah, istri Rasulillah SAW , Beliau berkata:

هذه كانت عند عاءشة حتى قبضت فلما قبضتها وكان النبي صلى الله عليه وسلم يلبسها فنحن نغسلها للمرضى يستشفى بها.

"Jubah ini dahulu berada pada Sayyidah Aisyah sampai wafat. Setelah itu aku ambil, dan Nabi SAW ( dahulu sering ) memakainya, maka aku mencucinya untuk mencari kesembuhan bagi orang-orang yang sedang sakit dengannya."( HR. Muslim ).

Maksudnya, beliau bertabarruk dengan memberi minum dari air basuhan jubah tersebut bagi orang-orang yang sedang sakit agar lekas sembuh, ataupun dengan mengucapkan jubah Rasulullah SAW pada anggota tubuh yang sakit.

Begitupula tabarruk salah seorang sahabat Nabi SAW dengan meminta berkah (selimut) beliau, yang kelak akan dijadikan kanannya.

Tabarruk dengan tempat Salat Rasulillah SAW

Atban bin Malik, salah seorang sahabat Nabi SAW yang mati syahid di perang badar, bila hujan turun tidak bisa mengimami jama'ahnya di masjid karena rabun matanya. Kemudian beliau memohon kepada Rasulillah SAW berkenan hadir dan Shalat di rumahnya dengan maksud tempat shalat Rasulillah SAW tersebut dijadikan Mushalla.

Tabarruk dengan bekas Air Wudhu Rasulillah SAW

Abu Juhaifah seorang sahabat Nabi SAW, Beliau berkata : " Aku mengunjungi Nabi SAW saat beliau di kubah merah yang terbuat dari kulit hewan, aku lihat Bilal mengambil air bekas Wudhu Nabi SAW dan orang-orang berlomba-lomba mendapatkannya, maka orang yang mendapatkannya mengucapkan dan orang yang tidak mendapatkannya mengambil ( mengusap ) dari tangan temannya yang terbasahi ( air bekas wudhu Nabi SAW tersebut yang di riwayatkan oleh Imam Bukhari.

Tabarruk dengan keringat Rasulillah

Anas bin Malik meriwayatkan, suatu ketika Rasulullah SAW masuk dan tidur di rumah ibunya, Ummu Sulaim. Tidur Nabi SAW berkeringat dan menggenang di sepotong kulit hewan yang berada di alas tidurnya.lantas ia membuka atidah ( peti kecil, tempat barang-barang berharga ) nya, mengambil keringat tersebut dan memasukannya di beberapa botol. Nabi terperanjat dan bangun, lalu bersabda:

" Apa yang engkau lakukan Wahai Ummi Sulaim?" Ia menjawab: " Wahai Rasulullah SAW! Aku mengharapkan barakahnya bagi anak anakku" Beliau bersabda: " Engkau benar." Hadits ini dari Imam Muslim.

Dan banyak lagi tabarruk pada diri Rasulullah, dalam rambutnya, darahnya, dan seterusnya.

Begitupun bertabarruk pada para Ulama.

1.Imam Syafi'i bertabaruk pada air cucian baju gamisnya Imam Ahmad, selalu setiap hari beliau mengusap wajahnya dengan air tersebut.

2.Imam Ahmad bin Hanbal bertabarruk air cucian baju gamis gurunya yaitu Imam Syafi'i, beliau Imam Ahmad meminum air cucian gamis tersebut.

3.Imam Taqiyyuddin as-Subqi beliau pergi mengunjungi Imam an-Nawawi namun tidak tahunnya beliau telah wafat.lalu beliau menanyakan tempat biasa diduduki Imam Nawawi dan mengusa-ngusapnya dengan wajah serta jenggotnya dan melantunkan sya'ir yang artinya:.

"Dan di darul Hadits terdapat nilai Agung, Aku Shalat disekitarnya dan diam (disana).

Semoga wajahmu yang paling berharga bisa menyentuh, satu tempat yang pernah tersentuh telapak kaki an-Nawawi."

Telah jelas hadits Nabi SAW dan kisah para Ulama di atas, bahwa tabarruk merupakan pola keagamaan yan legal dan terpuji, akankan tudingan sesat, berbau syirik dan bid'ah masih pantas disematkan pada praktik tabarruk yang telah membudaya dan bersemi di tengah masyarakat kita dengan teladan para sahabat Nabi dan Ulama?

Mari terus kita lestarikan tabarruk di bumi pertiwi yang kita cintai ini.

  • Gus Basir Ketua LBM MWC NU Jatitujuh & Pimpinan Majelis Dzikir Sabilul Ghafilin, Sumur Wetan Cipaku, Jatitengah, Jatitujuh, Kabupaten Majalengka.

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.