KAJIAN | Najis Menempel Saat Salat
Oleh Gus Basir
ULAMA Syafiiyah mendefinisikan najis secara ringkas:
النَّجَاسَةُ لُغَةً مَا يُسْتَقْذَرُ وَشَرْعًا بِالْحَدِّ مُسْتَقْذَرٌ يَمْنَعُ صِحَّةَ الصَّلَاةِ حَيْثُ لَا مُرَخِّصَ
Artinya: “Secara bahasa, najis adalah sesuatu yang dipandang jijik. Sedangkan secara istilah (selain kotor dan menjijikkan) ia menyebabkan shalat tidak sah – selama tidak ada sebab yang meringankan.”
Jadi Najis adalah sifat hukum yang mengharuskan seseorang untuk tidak melaksanakan salat. Serta Najis juga diartikan sebagai benda yang kotor dan menjijikkan.
Beberapa contoh najis adalah:
- Air kencing
- Air madzi
- Air wadi
- Kotoran binatang
- Darah
- Muntahan
- Air empedu
- Air luka atau bisul yang berubah rasa, warna, atau baunya
- Nanah
- Asap dan uap dari barang najis yang dibakar
Najis dibagi menjadi tiga jenis, yaitu:
- Najis Mughalladzah (najis berat),
- Najis mutawassithoh (najis sedang),
- Najis mukhoffafah (najis ringan).
Najis yang tidak dimaafkan (tidak diampuni) adalah kotoran dan kencing manusia. Sedangkan najis yang dimaafkan adalah najis kecil yang tidak kasat mata, seperti percikan air kencing yang mengenai pakaian.
Untuk menyucikan najis, Anda bisa menghilangkan najisnya dan kemudian menyiramkan air ke tempat yang terkena najis.
Lantas bagaimana terkait najis yang nempel saat salat?. Kita bahas status terkait hal tersebut secara detail biar bisa bermanfaat dan memberikan pencerahan.
Dalam kitab Al-Majmu', imam Nawawi menjelaskan terkait hukum menempel dengan najis dalam salat itu ada tiga kemungkinan, yaitu:
Pertama, pakaian yang dipakai seperti baju, sarung, dan surban. Jika ujung pakaian tersebut menyentuh atau menempel pada najis najis, maka seluruh ulama' Madzhab Syafi'i sepakat shalatnya tidak sah. Baik Ujung pakaian tersebut ikut bergerak dengan gerakan orang yang salat atau tidak.
(وان كان عليه ثوب طاهر وطرفه موضوع علي نجاسة كالعمامة علي رأسه وطرفها علي أرض نجسة لم تجز صلاته لانه حامل لما هو متصل بنجاسة) (الشَّرْحُ) هَذَا الَّذِي ذَكَرَهُ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ وَسَوَاءٌ تحرك الطرف الذي يلاقى النجاسة بحركته في قيامه وَقُعُودِهِ وَرُكُوعِهِ وَسُجُودِهِ أَمْ لَمْ يَتَحَرَّكْ هَذَا مَذْهَبُنَا لَا خِلَافَ فِيهِ
Kedua, memegang atau mengikat sesuatu yang ujungnya menempel ke najis. Dalam hal ini ada tiga pendapat dan pendapat yang Shahih adalah batal
وَمُخْتَصَرُهَا أَنَّهُ إذَا قَبَضَ طَرَفَ حَبْلٍ أَوْ ثَوْبٍ أَوْ شَدَّهُ فِي يَدِهِ أَوْ رِجْلَيْهِ أَوْ وَسَطِهِ وَطَرَفُهُ الْآخَرُ نَجِسٌ أَوْ مُتَّصِلٌ بِنَجَاسَةٍ فَثَلَاثَةُ أَوْجُهٍ الصَّحِيحُ بُطْلَانُ صَلَاتِهِ وَالثَّانِي لَا تَبْطُلُ وَالثَّالِثُ إنْ كَانَ الطَّرَفُ نَجِسًا أَوْ مُتَّصِلًا بِعَيْنِ النَّجَاسَةِ بِأَنْ كَانَ فِي عُنُقِ كَلْبٍ بَطَلَتْ وَإِنْ كَانَ مُتَّصِلًا بِطَاهِرٍ وَذَلِكَ الطَّاهِرُ مُتَّصِلًا بِنَجَاسَةٍ بِأَنْ شَدَّ فِي سَاجُورٍ أَوْ خِرْقَةٍ وَهُمَا فِي عُنُقِ كَلْبٍ أَوْ شَدَّهُ فِي عُنُقِ حِمَارٍ عَلَيْهِ حِمْلٌ نَجِسٌ لَمْ تَبْطُلْ وَالْأَوْجُهُ جَارِيَةٌ سَوَاءٌ تَحَرَّكَ الطَّرَفُ بِحَرَكَتِهِ أَمْ لَا كَذَا قَالَهُ الْأَكْثَرُونَ
Namun jika diikat ke pintu bangunan yang di bangunan tersebut ada WC yang tentu saja najis, maka ulama' Syafi'i sepakat sah shalatnya. Inilah yang bisa dipakai untuk kasus Imam Salat yang pakai Mic dan Mic-nya disambungkan ke tembok masjid
وَإِنْ شَدَّهُ إلَى بَابِ دَارٍ فِيهَا حَشٌّ وَهُوَ الْخَلَاءُ صَحَّتْ بِلَا خِلَافٍ - المجموع
Ketiga, jika berupa alas yang digunakan untuk shalat seperti sajadah, maka asalkan selama shalat tidak ada tubuh atau pakaian kita yang nempel ke najisnya hukum shalatnya adalah sah
إذَا كَانَ عَلَى الْبِسَاطِ أَوْ الْحَصِيرِ وَنَحْوِهِمَا نَجَاسَةٌ فَصَلَّى عَلَى الْمَوْضِعِ النَّجِسِ لَمْ تَصِحَّ صَلَاتُهُ وَإِنْ صَلَّى عَلَى مَوْضِعٍ طَاهِرٍ مِنْهُ صَحَّتْ صَلَاتُهُ قَالَ أَصْحَابُنَا سَوَاءٌ تَحَرَّكَ الْبِسَاطُ بِتَحَرُّكِهِ أَمْ لَا لِأَنَّهُ غَيْرُ حَامِلٍ وَلَا مَاسٍّ لِلنَّجَاسَةِ وَهَكَذَا لَوْ صَلَّى عَلَى سَرِيرٍ قَوَائِمُهُ عَلَى نَجَاسَةٍ صَحَّتْ صَلَاتُهُ وَإِنْ تَحَرَّكَ بِحَرَكَتِهِ صَرَّحَ بِهِ صَاحِبُ التَّتِمَّةِ وَغَيْرُهُ
Itulah uraian tentang beberapa kasus yang banyak menjadi pertanyaan dari khalayak umum.
Mudah-mudahan bisa memberikan pencerahan akan keraguan kita dalam menjalankan salat ketika ada beberapa kasus seperti di atas.
Semoga memberikan tambah kekhusuan ibadah kita tanpa ada keraguan setelah adanya pemahaman.dari Al Fakir mohon maaf apabila kurang mendetail dalam penjelasan ini. Wallahu 'Alam.
- Gus Basir Ketua LBM MWC NU Jatitujuh & Pimpinan Majelis Dzikir Sabilul Ghafilin, Sumur Wetan Cipaku, Jatitengah, Jatitujuh, Kabupaten Majalengka.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!