Johnson Controls Nilai Daya Saing sebagai Penggerak Utama bagi Perusahaan di Asia Tenggara

ED
Kamis, 16 Juni 2022 | 10:53 WIB
Bagikan
Johnson Controls Nilai Daya Saing sebagai Penggerak Utama bagi Perusahaan di Asia Tenggara

Meski berbagai perusahaan menyadari manfaat dari praktik keberlanjutan, banyak perusahaan belum mengetahui langkah awal untuk mempersiapkan transformasi bisnis penting tersebut. Lima kendala terbesar yang kini dihadapi perusahaan termasuk mengelola berbagai pihak yang terlibat, belum menyusun rencana strategis, belum memiliki mitra eksternal, memahami ketentuan dari kebijakan yang selalu berubah, serta kesulitan memperluas skala.

Survei tersebut juga menemukan, hanya 18% responden di Asia Tenggara memiliki perangkat lunak pelaporan ESG untuk mengukur perkembangan yang telah tercapai. Sementara, 41% responden menilai perusahaannya belum memiliki keahlian internal sehingga menghambat upaya memonitor emisi karbon secara efektif.

"Demi mencapai dekarbonisasi, perusahaan harus menyesuaikan prioritas dengan tuntutan banyak pemangku kepentingan, berkolaborasi dengan mitra untuk mengembangkan perencanaan aspek keberlanjutan secara transparan, serta mengidentifikasi metrik dan menggunakan perangkat yang dapat memantau perkembangan perusahaan," jelas Mei Peng Hor, Business Development Director, Sustainable Infrastructure, Asia Pasifik, Johnson Controls. "Semakin banyak klien ingin mempermudah proses tersebut, dan mengalihkan komitmen keberlanjutan dan risiko untuk mencapai target kepada mitra eksternal yang memiliki kemampuan, skala, dan ekosistem. OpenBlue Net Zero Buildings as a Service dari Johnson Controls, misalnya, telah membantu University of Hawaii mengurangi penggunaan energi sebesar 80% di empat kampus, serta menghemat US$ 80 juta melalui proyek retrofit energi dan solusi energi terbarukan."

Menurut survei global ini, Amerika Utara menjadi wilayah yang paling agresif dalam target penurunan target. Meski urgensi di sektor swasta semakin meningkat di Asia Tenggara, masih banyak langkah yang harus diambil. Publikasi "ASEAN State of Climate Change Report" menunjukkan, hingga kini, "masih terdapat kesenjangan besar dalam implementasi dan ambisi" dalam penurunan target emisi pada 2030 dan tren emisi karbon.@nia

Halaman :

1 2

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.