Jelekong, Kampung yang Hidup dari Warna dan Kanvas

ED
Minggu, 4 Januari 2026 | 09:04 WIB
Bagikan
Jelekong, Kampung yang Hidup dari Warna dan Kanvas

VISI.NEWS | BANDUNG - Tak hanya dikenal sebagai kota kuliner dan destinasi wisata populer, Bandung juga menyimpan kekayaan lain yang berakar kuat pada seni dan budaya. Di selatan Bandung, terdapat sebuah kampung yang denyut kehidupannya tak lepas dari kuas, cat, dan kanvas. Kampung itu bernama Kampung Seni Jelekong.

Kampung Seni Jelekong terletak di Kelurahan Jelekong, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung. Di sinilah ratusan pelukis menggantungkan hidupnya sejak puluhan tahun lalu. Kampung ini dikenal sebagai sentra lukisan terbesar di Bandung, bahkan menjadi pemasok karya seni ke berbagai daerah di Indonesia.

Jejak Kampung Seni Jelekong bermula sejak akhir 1970-an, ketika seorang pelukis bernama Odin Rohidin—akrab disapa Oding—mulai mengembangkan kemampuan melukisnya. Oding belajar secara autodidak dari kakak iparnya yang sebelumnya bekerja sebagai pelukis di Jakarta. Dari tangan Oding, seni lukis perlahan tumbuh dan mengakar di Jelekong.

Awalnya, Oding mengerjakan sendiri pesanan lukisan dari para kolektor. Namun, seiring meningkatnya permintaan, ia merasa kewalahan. Jalan keluar pun diambil: Oding mengajarkan keahlian melukis kepada para tetangga. Dari sinilah seni lukis menyebar secara turun-temurun, menjadikan Jelekong sebagai kampung yang hampir setiap rumahnya menyimpan pelukis. Sampai kemudian muncul nama-nama tokoh seni di sini seperti Asep Sancang dan Dede Getek.

Kini, ketika memasuki kawasan Jelekong, mata pengunjung langsung disambut deretan lukisan yang berjajar di depan rumah warga dan galeri-galeri kecil. Tema lukisannya beragam, mulai dari pemandangan sawah, sungai jernih, perkampungan nelayan, pacuan kuda, hingga aktivitas pasar tradisional. Beberapa seniman juga menerima pesanan khusus sesuai permintaan pembeli.

Tak hanya lukisan di atas kanvas, Jelekong juga menghadirkan seni di ruang terbuka. Sejumlah tembok rumah warga dipercantik dengan lukisan mural dan motif batik. Rizal, salah satu pelaku usaha lukisan di Jelekong, menjelaskan bahwa pemilihan motif batik bukan tanpa alasan. Menurutnya, warna dan pola batik mampu memberikan efek psikologis agar pengunjung tidak jenuh sebelum masuk ke galeri lukisan.

“Kalau dari luar sudah terlalu banyak warna yang kuat, nanti saat masuk galeri lukisan jadi terasa biasa saja. Batik itu justru menenangkan mata dan pikiran,” ujar Rizal sambil menunjuk tembok bermotif di depan galerinya.

Menelusuri jalan aspal yang membelah perkampungan, pengunjung akan menemukan sejumlah galeri seni milik warga. Salah satu yang pertama terlihat adalah Lukisan Art Bandung, tempat Rizal bekerja. Galeri ini memajang berbagai karya lukis yang sengaja ditata menghadap jalan, seolah mengundang siapa pun yang melintas untuk berhenti sejenak dan menikmati keindahannya.

Selain lukisan, Kampung Jelekong juga memiliki daya tarik lain berupa spot foto lukisan tiga dimensi. Lukisan 3D dengan berbagai tema disiapkan untuk pengunjung yang ingin berfoto dengan latar unik dan artistik, menjadikan Jelekong tak sekadar tempat belanja seni, tetapi juga destinasi wisata visual.

Kampung ini juga dikenal sebagai salah satu rahim seniman besar Indonesia. Nama Asep Sunandar Sunarya, maestro wayang golek dari Padepokan Giri Harja, menjadi bagian tak terpisahkan dari Jelekong. Foto-foto tokoh seni ternama terpampang di beberapa sudut kampung, menjadi pengingat bahwa Jelekong telah melahirkan karya yang diakui hingga mancanegara.

Meski memiliki potensi besar, geliat Kampung Seni Jelekong hingga kini masih bertumpu pada swadaya warga. Beberapa pelaku seni berharap adanya perhatian lebih dari pemerintah, khususnya dalam penyediaan fasilitas pendukung pariwisata seperti lahan parkir untuk bus, toilet umum, tempat sampah, hingga penunjuk arah antar lokasi seni.

Harga lukisan di Jelekong bervariasi, menyesuaikan ukuran, tingkat kerumitan, dan teknik yang digunakan. Dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah, setiap karya membawa cerita dan proses panjang di baliknya. Bagi para seniman, menjual lukisan bukan sekadar transaksi ekonomi, tetapi juga upaya mempertahankan warisan budaya.

Lebih dari sekadar kampung wisata, Jelekong adalah ruang hidup seni yang terus bernapas. Dari kisah Oding yang mengajarkan melukis kepada tetangga, hingga generasi baru yang tetap setia pada kanvas, Kampung Seni Jelekong menjadi bukti bahwa seni bisa tumbuh, bertahan, dan menghidupi sebuah komunitas selama puluhan tahun.

@uli

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.