Jelang 'Muludan' 8 Oktober 2022, Ini Sejarah Perayaan Maulid Nabi SAW
Banyak ulama yang menentang perayaan maulid di masa itu karena tidak dilakukan di zaman Rasulullah SAW. Namun, Raja Shalahuddin menegaskan bahwa kegiatan maulid hanya bentuk syiar agama dan bukan ritual yang dihukumi wajib untuk dilakukan.
Festival ini pertama kali diadakan di abad keenam Hijriah. Saat itu Raja Shalahuddin mengadakan sayembara menulis riwayat hidup Rasulullah SAW dan puisi untuknya SAW. Syeikh Ja'far Al-Barzanji memenangkan sayembara ini. Karya beliau kini terkenal dengan nama Maulid Barzanji.
Berkat festival tersebut, banyak pemuda muslim mendaftar menjadi prajurit pembebasan Al-Aqsa dan Yerusalem dari tangan pasukan salib. Dan umat Islam berhasil membebaskan Yerusalem dari pasukan salib.
Abad ke-6 Hijriah
Ibnu Jubair menulis dalam bukunya Rihal, bahwa pada masanya, rumah kelahiran Rasulullah SAW dibuka, lalu orang-orang mendatangi rumah itu di hari senin pada bulan Rabiul Awal untuk mendapatkan keberkahan.
Abad ke-7 Hijriah
Pendapat ini menyatakan bahwa orang yang pertama kali merayakan Maulid adalah Raja Ibril dari Iraq. Beliau bernama Al-Muzaffar Abu Sa'id Kaukabri.
Pada hari Maulid, raja mengundang ahli ilmu, pakar tasawuf, para ulama dan rakyatnya lalu menjamu mereka semua, memberi hadiah, dan bersedekah kepada fakir miskin.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!