Jelang 'Muludan' 8 Oktober 2022, Ini Sejarah Perayaan Maulid Nabi SAW
Abad ke-3 Hijriah
Berdasarkan catatan para sejarawan seperti Ibnu Zahira Al-Hanafi, Ibnu Hajar Al-Haitami, dan An-Nahrawi, masyarakat merayakan hari kelahiran Rasulullah SAW setelah magrib di tanggal 12 Rabiul Awal. Sebagian besar masyarakat Mekkah akan berbondong-bondong mengunjungi rumah kelahiran Rasulullah SAW sambil berzikir membaca la ilaha illallah.
Jalanan terang dan orang-orang membawa serta anak-anak mereka. Mereka mengenakan pakaian terbaik ke sana. Kemudian, ulama akan berkhutbah tentang kelahiran Rasulullah SAW dan peristiwa-peristiwa yang mengiringinya. Kemudian acara dilanjutkan dengan berdoa untuk khalifah, para qadhi, dan amirul mukminin Mekkah.
Setelah acara selesai, mereka pergi ke Masjidil Haram lalu duduk di dekat Maqam Ibrahim. Setelah khatib membaca tahmid (alhamdulillah) dan doa, mereka menunaikan shalat Isya berjamaah, lalu pulang.
Abad ke-4 Hijriah
Pendapat kedua menyatakan bahwa Maulid Nabi SAW pertama kali dilakukan pada masa Dinasti Fatimiyyah di Mesir. Dinasti Fatimiyyah mengadakannya dengan berkurban, puasa, dan acara untuk Ahlul Bait dari keturunan Sahabat Ali bin Abi Thalib ra.
Perayaan ini masih berlanjut saat Dinasti Ayyubiyyah yang beraliran sunni, memimpin Mesir. Raja Shalahuddin Al-Ayyubi mengadakan festival perayaan Maulid Nabi SAW atas saran sepupunya, Muzafaruddin Gekburi.
Zaman Raja Shalahuddin Al-Ayyubi banyak diwarnai peperangan, dan festival Maulid ini dapat membangkitkan semangat masyarakat. Di masa Raja Shalahuddin, masyarakat mengkaji sirah dan atsar tentang Nabi Muhammad SAW dengan serius, sebagai bentuk kecintaan mereka kepada Rasulullah SAW.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!