"Jawa Barat Berzikir" di Ma'had Baitul Arqom Dihadiri Ribuan Santri dan Jemaah
VISI.NEWS | PACET – Ribuan santri dan jamaah Nahdliyin memadati Ma'had Baitul Arqom, Pacet, Kabupaten Bandung, Senin malam (4/8/2025), dalam gelaran "Jawa Barat Berzikir" yang diadakan oleh Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Jawa Barat. Acara ini menghadirkan ulama kharismatik, mantan Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siradj, yang memberikan tausiyah mendalam mengenai sejarah dan makna tawasul kepada Rasulullah SAW.
Dalam suasana yang penuh kekhusyukan, KH Said Aqil melantunkan bait-bait syair Barzanji, sebuah tradisi pujian kepada Nabi Muhammad SAW yang sudah berakar dalam budaya umat Islam, khususnya kalangan Nahdliyin. Ia membuka pembacaan dengan syair legendaris yang dahulu dibacakan oleh Ka’ab bin Zuhair, penyair Arab yang mendapatkan hadiah berupa burdah (selimut) dari Rasulullah.
"Inna ar-Rasūla lanūrun yustadā’u bihī. Muhannadun min suyūfillāhi maslūlu. Fī fityatin min Quraysyin qāla qā’iluhum. Bibathni Makkata lammā aslamū zūlū," KH Said melantunkan bait syair dengan penuh penghayatan yang artinya: Sesungguhnya Rasūl adalah cahaya yang menerangi. Kuat pemberani dari pedang India yang terhunus. Bersama sekelompok orang Quraisy, salah satu dari mereka berkata. Di lembah Makkah ketika mereka masuk Islam, hijrahlah.
Ia menjelaskan bahwa syair-syair seperti ini bukan sekadar seni sastra, melainkan bentuk ekspresi cinta yang memiliki kedudukan sunnah karena diakui langsung oleh Rasulullah SAW.
"Salat bakdiyah Zuhur memang tidak dicontohkan langsung oleh Rasulullah. Tapi karena dibolehkan dan mendapat legitimasi dari beliau, maka dihukumi sunnah," tutur KH Said. Ia menyambungkan penjelasan ini dengan hukum pujian kepada Rasul, "Begitu juga memuji Nabi. Beliau tidak pernah minta dipuji, tapi ketika dipuji, beliau tidak melarang bahkan membenarkan. Maka hukumnya jadi sunnah, bukan bid'ah. Paham teu?" ucapnya, disambut tawa jamaah.
KH Said juga mengisahkan bahwa hadiah burdah yang diberikan Rasulullah kepada Ka’ab adalah bentuk pengakuan terhadap puisi yang tulus dan agung. "Di Arab, burdah itu seperti kain dengan garis-garis. Di Istanbul, sampai sekarang masih ada peninggalannya. Yang percaya silakan, yang tidak percaya juga silakan," ucapnya merespons skeptisisme sebagian orang terhadap tradisi ini.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!