Isu Dicovidkan di Tengah Pandemi
Dari anak laki-lakinya, Ajo tahu bahwa istrinya sempat megap-megap setelah diberi sebutir pil oleh seorang perawat. Kondisi istrinya sangat repot setelah mengkonsumsi pil tersebut. Usai mendengar cerita dari anaknya, Ajo naik darah dan menanyakan ke perawat tersebut obat apa yang diberikan ke istrinya. Perawat itu tidak menjawab. Menurut Ajo, si perawat justru terlihat ketakutan.
Wakil Direktur RSUD Jawa Barat Al-Ihsan, Ferry Achmad Firdaus, menuturkan, sudah menjadi prosedur selama pandemi, pasien yang datang ke rumah sakit dengan gejala Covid-19 memang harus di test terlebih dahulu. Saat pasien tiba di rumah sakit, rumah sakit langsung memberikan surat pernyataan kepada pihak keluarga pasien, jika pasien akan dimasukkan ke ruangan isolasi sambil menunggu hasil tes covid-19. Lain Akhmad Djohara, lain pula Nia, warga di salah satu kampung di Ciparay, Kabupaten Bandung. Nia lebih memilih pasrah setelah diberitahu bahwa ibundanya meninggal dunia di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Majalaya, Kabupaten Bandung. Awalnya ibunya Nia dilarikan ke rumah sakit karena mengeluh sakit lambung. Nia mengakui, ibunya juga sudah kerap melakukan cuci darah karena penyakit batu ginjal. Kadar gula sang ibu juga diakui tiggi. Saat dirawat di rumah sakit, ibunya Nia ditempatkan di perawatan pasien Covid-19. Alasan rumah sakit, kata Nia, ibunya mengeluh sesak nafas, salah satu gejala kalau orang terpapar virus itu.
Beberapa hari dirawat di rumah sakit, ibunya Nia tak tertolong. Nia ditelepon oleh perwakilan RSUD Majalaya bahwa pemakaman sang ibu harus dengan protokol Covid-19, kendati dimakamkan di pemakaman umum. Nia merasa ibunya “dicovidkan”. Hingga Rabu (20/10/21) Nia belum menerima hasil tes Covid-19 atau surat keterangan apapun dari rumah sakit. “Pihak keluarga tidak memegang surat keterangan apapun,” ujar Nia kepada VISI.NEWS pada Rabu (20/10/21).
Ferry Achmad Firdaus, Wakil Direktur RSUD Jawa Barat Al-Ihsan, menjelaskan mengapa banyak tuduhan dari warga yang menyebut anggota keluarganya mati “dicovidkan”. Menurut Ferry, rumah sakit harus melakukan pemakaman dengan protokol Covid-19 karena pasien memiliki gejala seperti terpapar virus tersebut.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!