Iran vs Amerika: Adu Otot Militer di Ambang Perang Terbuka
VISI.NEWS | BANDUNG - Perbandingan kekuatan militer Iran dan Amerika Serikat kini tak lagi sebatas angka di atas kertas. Eskalasi konflik di Timur Tengah membuat rivalitas kedua negara kian nyata, seiring pengerahan besar-besaran kekuatan militer Amerika Serikat untuk menekan Teheran yang dituding mengganggu stabilitas kawasan.
Mengutip data Global Firepower 2025, militer Iran menempati peringkat ke-16 dunia dari 145 negara dengan indeks kekuatan 0,3048. Peringkat ini menempatkan Iran sebagai salah satu kekuatan militer paling dominan di Timur Tengah, meski masih terpaut jauh dari Amerika Serikat yang secara konsisten berada di jajaran teratas dunia.
Dari sisi jumlah personel, Iran mengandalkan kekuatan manusia dalam skala besar. Negeri para mullah ini memiliki sekitar 610.000 tentara aktif, 350.000 personel cadangan, serta 220.000 pasukan paramiliter yang tersebar di berbagai korps, termasuk Garda Revolusi Islam (IRGC).
Namun, ketimpangan mulai terlihat pada anggaran pertahanan. Iran hanya mengalokasikan sekitar USD15,45 miliar untuk sektor militer. Angka ini sangat kecil jika dibandingkan dengan Amerika Serikat yang memiliki anggaran pertahanan ratusan miliar dolar AS per tahun, terbesar di dunia.
Di udara, Iran memiliki total 551 pesawat, terdiri dari 188 jet tempur, 21 pesawat serang, enam pesawat tanker, dan 128 helikopter, termasuk 13 helikopter serang. Sementara itu, Amerika Serikat menguasai langit dengan ribuan pesawat tempur modern, termasuk armada F-35 dan F-22, yang didukung teknologi siluman dan sistem tempur jaringan canggih.
Kekuatan darat Iran juga tergolong masif, dengan 1.713 hingga 1.996 tank tempur, sekitar 65.825 kendaraan lapis baja, lebih dari 2.000 unit artileri tarik, serta 1.517 peluncur roket mobile. Meski demikian, kualitas persenjataan Amerika Serikat yang lebih modern dan terintegrasi menjadikannya unggul dalam perang konvensional skala besar.
Di laut, Iran memiliki 107 unit armada tempur, termasuk 25 kapal selam, tujuh fregat, dan puluhan kapal patroli. Amerika Serikat merespons ancaman ini dengan mengerahkan armada Angkatan Lautnya ke kawasan Timur Tengah, termasuk kapal serbu amfibi USS Bataan dan USS Carter Hall, serta ribuan marinir dan pelaut.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!