Inovasi Pengelolaan Sampah: Mesin Olah Runtah dari BBWS Citarum Bantu TPST3R Neglasari Majalaya
Editor
Desi Rossilawati
Sabtu, 17 Mei 2025 | 06:39 WIB
VISI.NEWS | KAB. BANDUNG - Persoalan sampah kian memprihatinkan. Tidak salah kalau persoalan sampah di sebagian besar wilayah Indonesia termasuk di Bandung Raya yang meliputi Kab. Bandung, Kota Bandung, Kab. Bandung Barat, dan Kota Cimahi masuk pada kategori 'Darurat Sampah'.
Hal ini dikatakan pegiat lingkungan dari Komunitas Elemen Lingkungan (ELINGAN) Kabupaten Bandung, Deni Riswandani dalam rilisnya, Jumat (16/5/2025) malam.
"Padahal program-program penanganan sampah mulai dari hulu dengan pendekatan perilaku berbudaya lingkungan yang disebar di setiap desa/kelurahan sudah banyak/sering dilakukan," katanya.
Demikian juga dengan penanganan sampah di hilir, kata dia, banyak dibangun infrastruktur Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST ) dan Tempat Pemrosesan Sampah Terpadu Reduce-Reuse-Recycle (TPST3R TPS 3R) di tiap desa dengan berbagai kelengkapan sarananya.
"Namun ternyata belum bisa mengatasi sampah secara masif, masih banyaknya ditemukan timbulan-timbulan sampah di pemukiman, sungai Citarum dan anak-anak sungai Citarum yang melintas wilayah Bandung Raya pun tidak luput dari pembuangan sampah dan sering terjadi lautan sampah," jelasnya.
Demikian juga penumpukan sampah yang cukup besar banyak terjadi di pasar-pasar tradisional. Bahkan di beberapa TPST3R terjadi juga penumpukan sampah akibat tidak dikelola dengan baik.
"Akhirnya saya melihat pengelolaan sampahnyapun kembali ke model lama yaitu 'Kumpul Angkut dan Buang'," katanya.
Menurut Deni, pemerintah pun sekarang ini lebih banyak membentuk petugas lapangan untuk mendata sekaligus mengumpulkan timbulan sampah ke satu titik lalu diangkut/dibuang ke TPPAS Sarimukti.
"Akibatnya kondisi sampah di TPPAS Sarimukti pun menjadi overload," ucapnya.
Dengan kondisi TPPAS Sarimukti yang overload, lanjutnya, maka Pemprov Jabar melalui Sekretaris Daerah menegaskan kepada kabupaten dan kota yang masuk wilayah Bandung Raya untuk berkomitmen mengurangi volume pengiriman sampah ke TPPAS Sarimukti, yaitu Kota Bandung dari 170 rit per hari menjadi 140 rit per hari, Kabupaten Bandung dari 70 rit menjadi 40 rit, Kota Cimahi dari 37 rit menjadi 17 rit, dan Kabupaten Bandung Barat dari 20 rit menjadi 17 rit.
"Overload dari 1.750 ton (sampah yang dikirim ke TPPAS Sarimukti) dikurangi menjadi 1.390 ton per hari, atau dari 267 rit per hari menjadi 214 rit per hari," ujarnya.
Menghadapi kondisi riil di lapangan seperti itu, kata Deni, bagaimana peran pengelolaan di TPST3R Gaul Motah Desa Neglasari Kecamatan Majalaya dalam mengatasi sampah yang bukan saja mengatasi sampah dari lingkungan Desa Neglasari.
"Melainkan juga ikut berkontribusi mengatasi sampah dari luar Desa Neglasari termasuk sampah dari luar Kecamatan Majalaya," ucapnya.
Dijelaskan, TPST3R Desa Neglasari Majalaya dibangun tahun anggaran 2021 dengan peruntukan untuk mengelola sampah dari wilayah satu RW yaitu RW 06 Kampung Neglasari.
Namun karena Kelompok Pemelihara dan Pemanfaat (KPP) banyak yang meninggalkan TPST3R. Maka pengelolaan sampahnya pun tidak berjalan, (kejadian seperti di TPST3R Neglasari Majalaya memang terjadi juga di beberapa TPST3R di wilayah lainnya).
"Melihat keprihatinan tersebut, maka di akhir tahun 2023, Komunitas Elemen Lingkungan (ELINGAN), mengumpulkan warga Desa Neglasari yang peduli lingkungan khususnya sampah," tuturnya.
Selanjutnya dibangun sistem manajemen pengelolaan sampahnya sekaligus dibentuk kelembagaan pengelolanya dengan nama komunitas Giat Asyik Untuk Lingkungan (GAUL).
"Alhamdulillah selama tahun 2024 para pengelola TPST3R GAUL Neglasari Majalaya dapat mengoptimalkan pengelolaan sampah dari tiap lingkungan Rukun Warga (RW) Desa Neglasari, edukasi kepada warga berjalan, pengelolaan sampah di TPST3R pun berjalan. Sehingga pengelolaan sampah di TPST3R GAUL Neglasari menjadi promosi pengelolaan sungai Citarum berbasis komunitas di Word Water Forum ke 10 di Bali (18 - 25 Mei 2024) melalui CNBC TV," tuturnya.
Selanjutnya di bulan Juni 2024, masih kata Deni, TPST3R GAUL mendapat bantuan dari BBWS Citarum Dirjen SDA Kementerian PU berupa 1 unit insenerator Mesin Olah Runtah (MOTAH) dengan kapasitas dapat mengatasi 10 ton sampah perhari ditambah 1 unit motor roda tiga pengangkut sampah kapasitas 1 kubik sampah.
"Dari sinilah TPST3R GAUL Neglasari Majalaya mulai ikut berkontribusi menangani sampah dari luar Desa Neglasari, bahkan sampah dari luar Kecamatan Majalaya. Alhasil ketika ada penilaian dari Sanitasi Dirjen Ciptakarya Kementerian PU tanggal 26 Nopember 2024, bahwa TPST3R GAUL MOTAH Neglasari bersama 12 TPST3R dan sanitasi se-Indonesia masuk pada buku profil Infrastruktur Berbasis Masyarakat (IBM) Ciptakarya Indonesia," tuturnya.
Menurutnya, walaupun para pengelola TPST3R GAUL MOTAH Desa Neglasari Majalaya lebih banyak mengandalkan kemandirian dan keswadayaan warga, artinya tidak ada honor atau insentif dari pemerintah.
"Namun alhamdulillah sampai sekarang pengelolaan sampah di TPST3R GAUL MOTAH Neglasari Majalaya dapat mengelola sampah sampai tuntas," pungkasnya. @kos
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!