Inggris Bidik Akar Kekerasan terhadap Perempuan Lewat Pendidikan Anak Laki-laki

ED
Sabtu, 31 Januari 2026 | 12:04 WIB
Bagikan
Inggris Bidik Akar Kekerasan terhadap Perempuan Lewat Pendidikan Anak Laki-laki

VISI.NEWS | BANDUNG Pemerintah Inggris sedang menyiapkan langkah besar dalam pendidikan sekolah untuk menekan angka kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan di masa depan. Pemerintah percaya bahwa perubahan sikap terhadap perempuan harus dimulai sejak usia muda, terutama di sekolah — tempat anak laki-laki mulai membentuk cara pandang mereka tentang hubungan, persetujuan, dan rasa hormat.

Perdana Menteri Keir Starmer menegaskan bahwa upaya ini penting untuk mengubah budaya yang selama ini membiarkan sikap merendahkan terhadap perempuan tetap ada. “Mengatasi sikap merendahkan perempuan pada usia muda adalah hal yang sangat penting,” kata Starmer dalam konferensi pers di London.

Salah satu fokus strategi nasional ini adalah pelatihan guru untuk mengenali dan menangani sikap merendahkan perempuan di lingkungan sekolah. Pelatihan tersebut meliputi topik-topik seperti persetujuan (consent) dalam hubungan, risiko menyebarkan foto atau video intim tanpa izin, serta cara menepis mitos tidak sehat tentang perempuan dan relasi. Selain itu, guru akan dilatih memperkenalkan figur laki-laki yang menunjukkan perilaku positif terhadap perempuan.

Pemerintah juga akan memberikan akses program perilaku khusus bagi siswa yang menunjukkan tanda-tanda berisiko tinggi, termasuk mereka yang menunjukkan sikap bermusuhan atau prasangka terhadap perempuan. Pendekatan ini berorientasi pada pendampingan dan pembinaan, bukan sekadar hukuman.

Menteri Safeguarding Jess Phillips menyebut kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan sebagai “darurat nasional”. Phillips mengatakan bahwa pemerintah ingin “seambisius mungkin hingga bisa mengubah budaya” yang mendasari kekerasan tersebut.

Strategi ini juga mencakup pembukaan layanan bantuan atau hotline khusus bagi remaja yang memiliki kekhawatiran soal kekerasan atau perilaku tidak sehat dalam hubungan mereka. Langkah ini dianggap penting mengingat data lembaga amal Reducing the Risk menunjukkan bahwa hampir 40 persen remaja dalam hubungan pernah menjadi korban kekerasan.

Halaman :

1 2

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.