IKEA dan Danilla Hadirkan Ruang Candramawa

ED
PN
Sabtu, 22 Agustus 2026 | 12:34 WIB
Bagikan
IKEA dan Danilla Hadirkan Ruang Candramawa

VISI.NEWS - IKEA Indonesia bersama musisi dan penulis lagu Danilla menghadirkan Ruang Candramawa, sebuah roomset yang menerjemahkan proses kreatif ke dalam pengalaman ruang. Terinspirasi dari album terbaru Danilla, Candramawa, instalasi ini memperlihatkan bagaimana satu ruang dapat mengakomodasi berbagai aktivitas, suasana, dan perubahan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

Ruang Candramawa resmi diluncurkan pada 20 Agustus 2026 di IKEA Alam Sutera. Pengunjung juga dapat menemukan roomset tersebut di IKEA Kota Baru Parahyangan serta IKEA Ciputra World Surabaya. Kehadirannya menjadi pertemuan antara musik, cerita personal, desain interior, dan gagasan mengenai ruang yang mampu bergerak mengikuti kebutuhan penggunanya.

Kolaborasi ini tidak berangkat dari keinginan untuk membuat ulang kamar pribadi atau studio musik Danilla. IKEA justru memilih menelusuri lebih dalam bagaimana Danilla dan rekan-rekan kreatifnya menjalani proses penciptaan album Candramawa.

Dari pengamatan tersebut, IKEA menemukan bahwa proses kreatif tidak selalu berlangsung secara lurus dan terstruktur. Ada saat ketika musik dikerjakan dengan penuh konsentrasi, tetapi ada pula waktu untuk mendengarkan teman bereksperimen, berbincang, mencoba ide baru, memberi respons, mencari inspirasi, atau sekadar berhenti sejenak.

“Dari awal kami memang tidak ingin membuat replika kamar atau studionya Danilla. Kami ingin memahami bagaimana beliau dan teman-temannya menjalani proses pembuatan musik. Dari situ, kami melihat bahwa prosesnya tidak selalu berlangsung linear dan monoton. Ada banyak interaksi, percobaan, dan perubahan di sepanjang proses tersebut, dan hal itu yang kemudian kami bawa ke dalam Ruang Candramawa,” ujar Alfinda Krista Rahardyana, Interior Design Leader IKEA Indonesia.

Pendekatan inilah yang kemudian menjadi fondasi utama dalam perancangan Ruang Candramawa. Ruang tersebut tidak dirancang sebagai studio musik khusus, melainkan sebagai sebuah lingkungan dengan beberapa area yang memiliki karakter berbeda dan dapat digunakan secara fleksibel.

Aktivitas yang membutuhkan fokus dapat berlangsung berdampingan dengan momen untuk mengobrol, berkumpul, bereksperimen, atau beristirahat. Setiap bagian memiliki suasana tersendiri, tetapi tetap diikat dalam satu komposisi yang utuh.

Inspirasi kolaborasi ini berangkat dari album penuh terbaru Danilla, Candramawa, yang dirilis pada 5 Juni 2026. Album yang terdiri atas delapan lagu dengan durasi sekitar 30 menit tersebut membawa cerita mengenai pengalaman hidup, kenangan, luka, ketakutan, kehilangan, serta upaya seseorang untuk berdamai dengan hal-hal yang tidak selalu dapat diubah.

Bagi IKEA, memahami cerita di balik album menjadi bagian penting dalam membaca kehidupan sehari-hari Danilla selama proses penciptaannya. Dari kebiasaan dan interaksi yang terjadi selama proses tersebut, muncul gambaran tentang bagaimana ruang berperan dalam membentuk pengalaman kreatif.

Candramawa juga menjadi fase baru dalam perjalanan musikal Danilla. Jika album sebelumnya, POP SEBLAY, dikenal dengan pendekatan yang lebih eksploratif dan playful, Candramawa membawa suasana yang lebih reflektif.

Album ini berbicara tentang berbagai sisi kehidupan manusia, termasuk kenangan, ketakutan, kehilangan, luka, dan proses menerima masa lalu. Danilla juga pernah menjelaskan bahwa Candramawa berkaitan dengan fase melepaskan dan berdamai dengan berbagai hal dalam hidup.

Album yang disebut sebagai album ke-3A ini bahkan nyaris menjadi karya terakhir Danilla setelah ia sempat mempertimbangkan untuk berhenti bermusik. Dukungan dari orang-orang terdekat dan para pendengarnya kemudian membuat Danilla kembali menemukan alasan untuk terus melanjutkan perjalanan kreatifnya.

Dalam menggarap Candramawa, Danilla bekerja secara intens bersama dua musisi sekaligus produser musik, Lafa Pratomo dan Otta Tarrega. Ketiganya menjadi inti dari proses penciptaan album dengan pola kerja yang terbuka terhadap percobaan, dialog, dan respons spontan.

“Prosesnya memang banyak terjadi lewat interaksi kami bertiga. Misalnya saat aku mencoba bagian vokal, Lafa dan Otta bisa langsung memberikan respons, begitu juga ketika mereka sedang mencoba bagian gitar atau keys. Dari situ kami bisa saling mengembangkan dan mengubah sesuatu sampai terasa pas. Mungkin itu juga yang aku suka dari Ruang Candramawa, karena ruangnya nggak terasa seperti dibuat untuk satu kegiatan saja. Ada ruang untuk bekerja, ngobrol, mencoba sesuatu, atau sekadar duduk dan melihat ke mana prosesnya berjalan,” kata Danilla, Musisi & Creative Collaborator.

Dinamika kerja bersama tersebut kemudian diterjemahkan IKEA menjadi gagasan ruang yang fleksibel. Sebuah tempat tidak hanya diposisikan untuk satu aktivitas dengan fungsi yang kaku, tetapi dapat berubah mengikuti kebutuhan penggunanya.

Palet warna monokrom menjadi salah satu elemen visual yang menyatukan Ruang Candramawa. Pencahayaan berlapis menghadirkan perbedaan suasana di setiap area, sementara material bertekstur dan elemen personal memberikan karakter tersendiri.

Perpaduan berbagai elemen itu menciptakan ruang yang memiliki fungsi berbeda-beda tanpa kehilangan keterhubungan sebagai satu kesatuan.

“Kolaborasi ini menarik untuk kami karena pada akhirnya kami tidak hanya mengambil inspirasi dari karya Danilla, tetapi juga dari cara dia menjalani proses kreatifnya. Kami ingin membawa perspektif tersebut ke dalam ruang yang tetap dekat dengan kehidupan sehari-hari banyak orang, sehingga pengunjung bisa melihat kemungkinan lain dari ruang yang mereka miliki,” ujar Muhammad Taufiqurrakhman, Country Marketing Manager IKEA Indonesia.

Kolaborasi ini sekaligus memperlihatkan bagaimana kreativitas dapat tumbuh dari interaksi. Dalam proses penciptaan Candramawa, Danilla, Lafa, dan Otta tidak bekerja dengan formula yang sepenuhnya tetap. Setiap ide dapat berkembang melalui respons dari anggota tim lainnya.

Lafa Pratomo sendiri merupakan musisi, penulis lagu, arranger, dan produser yang telah menjadi bagian dari perjalanan kreatif Danilla sejak album Telisik pada 2014. Kolaborasi mereka kemudian berlanjut dalam Lintasan Waktu, POP SEBLAY, hingga Candramawa.

Hubungan kreatif tersebut tidak hanya berada di ranah produksi musik. Dalam proses penggarapan POP SEBLAY, Lafa memiliki peran penting dalam membantu menjaga arah album ketika berbagai ide Danilla dan Otta berkembang ke banyak kemungkinan. Danilla bahkan pernah menggambarkan Lafa sebagai semacam “gatekeeper” yang membantu memastikan eksplorasi kreatif tetap menemukan bentuk yang tepat.

Dalam Candramawa, Lafa kembali menjadi salah satu produser bersama Danilla dan Otta Tarrega. Perannya berada di titik temu antara ide, penulisan lagu, aransemen, hingga proses mengubah gagasan menjadi sebuah karya musikal yang utuh.

Sementara itu, Otta Tarrega adalah musisi, penulis lagu, arranger, dan produser musik yang telah lama bekerja bersama Danilla. Ia terlibat dalam POP SEBLAY dan karya-karya setelahnya, termasuk dalam pembentukan warna musik Danilla.

Dalam proses kreatif bersama Danilla dan Lafa, Otta dikenal membawa pendekatan yang terbuka terhadap eksplorasi. Kerja bersama mereka memberi ruang bagi setiap anggota untuk mencoba berbagai kemungkinan tanpa terlalu cepat membatasi arah kreatif.

Untuk Candramawa, Otta kembali menjadi salah satu produser utama bersama Danilla dan Lafa. Ketiganya menjadi inti proses musikal album, sementara beberapa lagu juga melibatkan kolaborator lain, termasuk Bilal Indrajaya, hara, dan Sandrayati.

Proses pembuatan Candramawa berlangsung dalam rentang 2024 hingga 2025. Sebagian proses produksi dilakukan di Bantul, Yogyakarta. Danilla memilih lingkungan tersebut antara lain karena kebutuhan untuk bekerja di suasana yang lebih tenang, sekaligus memungkinkan tim kreatif membawa orang-orang yang dibutuhkan selama proses penciptaan.

Lingkungan dan cara mendengarkan juga menjadi bagian penting dari perjalanan album ini. Sebelum perilisan digital, Danilla sempat mengajak sebagian pendengarnya untuk menikmati Candramawa dalam suasana yang lebih tenang dan tanpa terlalu banyak distraksi.

Delapan lagu dalam Candramawa adalah Pertunjukan Terakhir, Prasangka featuring Bilal Indrajaya, Kata Siapa, Anaking, Cinta Pertama, Lembar Biru, Dasawarsa, dan Setitik featuring hara & Sandrayati.

Salah satu lagu yang menjadi bagian dari perjalanan menuju album tersebut adalah Pertunjukan Terakhir. Lagu tentang kehilangan itu ditulis bersama Otta dan Lafa dengan sudut pandang berbeda terhadap kematian. Bukan semata membicarakan kesedihan mereka yang ditinggalkan, lagu tersebut juga mencoba melihat seseorang yang telah pergi dan bagaimana perjalanan hidupnya sampai pada penutup.

Melalui Ruang Candramawa, cerita tersebut kemudian berpindah dari dunia musik ke dunia desain interior. IKEA tidak sekadar mengambil album sebagai tema visual, melainkan mencoba menerjemahkan cara kerja kreatif di baliknya ke dalam sebuah ruang.

Pengunjung dapat melihat bagaimana sebuah ruang memiliki kemungkinan lebih luas dibanding sekadar pembagian fungsi yang konvensional. Tempat untuk bekerja dapat sekaligus menjadi tempat berpikir. Area untuk duduk dapat menjadi ruang percakapan. Sudut untuk beristirahat juga dapat menjadi tempat munculnya sebuah gagasan.

Bagi banyak orang, aktivitas sehari-hari juga tidak selalu berjalan secara linear. Seseorang bisa bekerja sambil berpikir, berbincang untuk mencari inspirasi, berhenti sejenak untuk memulihkan energi, lalu kembali melanjutkan aktivitas dengan perspektif berbeda.

Gagasan itulah yang menjadi salah satu kekuatan Ruang Candramawa. Satu ruang tidak harus dipaksa memiliki satu fungsi tunggal. Dengan penataan yang tepat, sebuah ruang dapat mengikuti ritme kehidupan penggunanya.

Melalui kolaborasi bersama Danilla, IKEA Indonesia menghadirkan interpretasi mengenai proses kreatif yang menjadi latar lahirnya album Candramawa. Berangkat dari kolaborasi Danilla bersama Lafa Pratomo dan Otta Tarrega, IKEA menerjemahkan proses tersebut ke dalam ruang dengan suasana dan area yang berbeda, tetapi tetap saling terhubung.

Ruang Candramawa pada akhirnya bukan sekadar roomset bertema musik. Kolaborasi ini menjadi pertemuan antara cerita personal, perjalanan kreatif, dan pandangan IKEA mengenai ruang sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Bagi pengunjung, instalasi ini menawarkan kemungkinan untuk melihat ruang dari perspektif berbeda: bahwa kreativitas tidak selalu lahir dari tempat yang khusus, proses tidak selalu berjalan lurus, dan satu ruang dapat tumbuh bersama berbagai aktivitas yang terjadi di dalamnya.

Ruang Candramawa dapat dikunjungi di IKEA Alam Sutera, IKEA Kota Baru Parahyangan, dan IKEA Ciputra World Surabaya. Kehadirannya menjadi kesempatan bagi publik untuk merasakan langsung bagaimana proses kreatif Danilla dan cerita di balik album Candramawa diterjemahkan menjadi pengalaman ruang yang fleksibel, personal, dan penuh kemungkinan.

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.