IHSG Menguat di Tengah Euforia AI Global

Desi Rossilawati
Selasa, 2 Juni 2026 | 10:02 WIB
Bagikan

VISI.NEWS | BANDUNG - Penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada awal perdagangan Selasa (2/6/2026) mencerminkan besarnya pengaruh sentimen global terhadap pasar keuangan Indonesia. Kenaikan indeks terjadi seiring reli bursa saham dunia yang masih ditopang optimisme terhadap perkembangan kecerdasan buatan atau AI, meskipun berbagai risiko ekonomi dan geopolitik masih membayangi pasar.

IHSG dibuka menguat 82,62 poin atau 1,35 persen ke level 6.210,00. Sementara itu, Indeks LQ45 yang berisi saham saham unggulan juga naik 5,05 poin atau 0,83 persen ke posisi 616,22.

Menurut Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata, sentimen utama yang menggerakkan pasar saat ini masih berasal dari sektor teknologi global.

“Pasar global masih ditopang oleh euforia AI, meski risiko inflasi energi dari konflik AS dengan Iran belum mereda,” ujar Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata, dalam keterangannya dikutip, Selasa (2/6/2026).

Fenomena tersebut terlihat dari penguatan sejumlah indeks utama dunia. MSCI World, MSCI Asia ex Japan, MSCI EM, Wall Street Big Three, hingga Nikkei Jepang mencatat rekor penguatan baru. Bursa Korea Selatan bahkan melonjak sekitar 4 persen. Kondisi ini menunjukkan bahwa optimisme terhadap investasi dan belanja teknologi berbasis AI masih menjadi motor utama pergerakan pasar saham global.

Namun di balik reli tersebut, terdapat sejumlah faktor yang perlu dicermati. Liza menilai ekonomi Amerika Serikat menunjukkan pola yang semakin tidak merata. Di satu sisi, korporasi besar menikmati lonjakan investasi AI, sementara di sisi lain tingkat tabungan masyarakat berada pada level historis yang rendah. Situasi ini menggambarkan adanya kesenjangan pemulihan ekonomi yang dapat menjadi sumber risiko di masa mendatang.

Perhatian pelaku pasar juga tertuju pada arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Yardeni Research memperkirakan bank sentral AS atau The Fed akan mengadopsi sikap yang lebih ketat terhadap inflasi dan berpotensi menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Juli 2026. Proyeksi tersebut didorong oleh meningkatnya sejumlah indikator inflasi yang kembali mencapai level tertinggi sejak 2023.

“Fokus pelaku pasar kini beralih ke data ketenagakerjaan AS, khususnya Nonfarm Payrolls pada Jumat nanti, yang berpotensi menjadi katalis utama pergerakan pasar,” ujar Liza.

Dari dalam negeri, sentimen positif juga datang dari kebijakan pemerintah yang mulai mengoperasikan PT Danantara Sumberdaya Indonesia sebagai BUMN ekspor untuk mendukung skema ekspor satu pintu komoditas strategis. Selain itu, berbagai insentif bagi eksportir serta langkah Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah turut menjadi faktor yang diperhatikan investor.

Meski demikian, Kiwoom Research mengingatkan bahwa pasar masih menghadapi berbagai ketidakpastian. Di tengah munculnya sejumlah regulasi dan kebijakan baru, investor disarankan tetap berhati hati dalam mengambil posisi beli dan lebih fokus pada peluang jangka pendek serta rotasi sektor yang memperoleh sentimen positif.

Secara keseluruhan, penguatan IHSG kali ini menunjukkan bahwa pasar domestik masih mendapatkan dorongan dari optimisme global, terutama terkait perkembangan AI. Namun arah pergerakan selanjutnya akan sangat dipengaruhi oleh data ekonomi Amerika Serikat, kebijakan suku bunga The Fed, serta efektivitas berbagai kebijakan ekonomi yang tengah dijalankan pemerintah Indonesia.

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.