Pusat Kebudayaan Tionghoa Bandung Dibidik Jadi Magnet Wisata 26 Aug 2026 Logistik Mengalir, Massa Bersiap Kepung Senayan 27 Agustus 26 Aug 2026 Hudson Serukan Keberanian, Thailand Bertekad Balikkan Keunggulan Vietnam 26 Aug 2026 Green GSM Luncurkan Taksi Listrik Premium 7 Penumpang di Filipina 26 Aug 2026 Pemkot Bandung Siapkan Rp56 Miliar untuk Bus Rapid Transit 26 Aug 2026 Pasar Baru dan Pecinan Lama Dibidik Jadi Destinasi Kuliner Dunia 26 Aug 2026 Cibaduyut Kini Punya Ruang Kreatif Bikin Sandal Sendiri 26 Aug 2026 Bandung Cerah, Suhu hingga 31 Derajat pada Rabu 26 Agustus 2026 26 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kabupaten Sumedang Hari Ini, Rabu 26 Agustus 2026 26 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kota Cimahi Hari Ini, Rabu 26 Agustus 2026 26 Aug 2026 Pusat Kebudayaan Tionghoa Bandung Dibidik Jadi Magnet Wisata 26 Aug 2026 Logistik Mengalir, Massa Bersiap Kepung Senayan 27 Agustus 26 Aug 2026 Hudson Serukan Keberanian, Thailand Bertekad Balikkan Keunggulan Vietnam 26 Aug 2026 Green GSM Luncurkan Taksi Listrik Premium 7 Penumpang di Filipina 26 Aug 2026 Pemkot Bandung Siapkan Rp56 Miliar untuk Bus Rapid Transit 26 Aug 2026 Pasar Baru dan Pecinan Lama Dibidik Jadi Destinasi Kuliner Dunia 26 Aug 2026 Cibaduyut Kini Punya Ruang Kreatif Bikin Sandal Sendiri 26 Aug 2026 Bandung Cerah, Suhu hingga 31 Derajat pada Rabu 26 Agustus 2026 26 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kabupaten Sumedang Hari Ini, Rabu 26 Agustus 2026 26 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kota Cimahi Hari Ini, Rabu 26 Agustus 2026 26 Aug 2026

IHSG Melemah Usai BI Naikkan Suku Bunga Lagi

Desi Rossilawati
Kamis, 18 Juni 2026 | 15:05 WIB
Bagikan
IHSG Melemah Usai BI Naikkan Suku Bunga Lagi

Ilustrasi./visi.news/MI.

VISI.NEWS | JAKARTA - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih bergerak di zona merah pada sesi kedua perdagangan saham, Kamis (18/6/2026). Koreksi ini terjadi di tengah keputusan Bank Indonesia kembali menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen.

Mengutip data RTI pada pukul 14.48 WIB, IHSG turun 1,27 persen ke posisi 6.141. Indeks LQ45 juga terpangkas 1,63 persen menjadi 615,07. Seluruh indeks saham acuan tertekan, menandakan tekanan pasar terjadi cukup luas.

Pada sesi kedua, IHSG sempat berada di level tertinggi 6.197,17 dan level terendah 6.073,72. Sebanyak 458 saham melemah, sementara 215 saham menguat dan 140 saham tidak bergerak. Total frekuensi perdagangan mencapai 1.426.348 kali dengan volume 19,4 miliar saham. Nilai transaksi harian tercatat Rp 13 triliun. Posisi dolar Amerika Serikat terhadap rupiah berada di kisaran 17.720.

Dari sebelas sektor saham, hanya sektor basic yang naik 0,72 persen. Sektor infrastruktur menjadi penekan utama setelah tergelincir 2,09 persen. Tekanan juga terjadi pada sektor keuangan yang turun 1,72 persen dan kesehatan yang terpangkas 1,43 persen.

Konteks utama pelemahan IHSG berkaitan dengan sentimen suku bunga. Bank Indonesia menaikkan BI Rate dalam Rapat Dewan Gubernur pada 17 sampai 18 Juni 2026. Keputusan ini juga diikuti kenaikan suku bunga deposit facility menjadi 4,75 persen dan lending facility menjadi 6,5 persen.

"Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada tanggal 17 dan 18 Juni 2026 memutuskan untuk menaikan BI Rate sebesar 25 basis point menjadi 5,75 persen," ujar Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo saat mengumumkan hasil RDG BI, Kamis (18/6/2026).

Perry menjelaskan, kenaikan tersebut menjadi langkah lanjutan untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.

"Serta sebagai langkah pre-emptive untuk menjaga inflasi pada tahun 2026 dan 2027 tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5 plus minus 1 persen yang ditetapkan pemerintah," imbuh dia.

Sebelumnya, BI juga telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,5 persen pada 9 Juni 2026. Langkah itu diambil untuk merespons tekanan terhadap rupiah akibat meningkatnya gejolak global, terutama dampak konflik di Timur Tengah.

Dengan kondisi tersebut, pelemahan IHSG mencerminkan sikap pasar yang berhati hati terhadap kenaikan suku bunga, tekanan rupiah, dan ketidakpastian global. Investor tampak menimbang kembali risiko, terutama pada sektor yang sensitif terhadap biaya dana dan arah kebijakan moneter.

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.