Huawei Tegaskan Komitmen untuk Bangun Infrastruktur Hijau Rendah Karbon di Indonesia Setelah Tergabung dalam "Daftar A" CDP
Hingga akhir 2022 Huawei telah membantu para pelanggannya menghasilkan lebih dari 695.1 milyar kWh energi hijau, serta mengurangi konsumsi energi sebanyak 19.5 milyar kWh, hal ini setara dengan mencegah timbulnya emisi CO2 sebanyak hampir 340 juta ton. Lebih lanjut, Huawei juga menanamkan konsep ekonomi sirkular dalam manajemen daur hidup produknya, mulai dari desain produk hingga akhir masa guna produknya.
Huawei juga berkomitmen untuk menggunakan material dan kemasan yang lebih ramah lingkungan, guna mengurangi emisi karbon dalam rangkaian prosesnya, serta memproduksi produk-produk yang lebih tahan lama dalam rangka mengurangi limbah. Lebih jauh lagi, Huawei juga bekerjasama dengan rekanan-rekanan seperti organisasi perlindungan lingkungan serta institusi riset ilmiah untuk memanfaatkan teknologi dengan cara-cara inovatif dalam rangka melindungi hutan, lahan basah, lautan dan alam secara keseluruhan.
Direktur Huawei dan Direktur Corporate Sustainable Development Committee untuk Huawei, Tao Jingwen, mengatakan "Pengembangan berkelanjutan merupakan langkah penting bagi strategi perusahaan Huawei secara keseluruhan. Dalam rangka mengatasi tantangan global terkait perubahan iklim, kami yakin bahwa teknologi adalah factor utama untuk mendorong pengembangan yang berkelanjutan, guna menciptakan dunia yang berkelanjutan, yang lebih inklusif dan lebih ramah lingkungan. Ke depannya Huawei berharap dapat bekerjasama dengan para konsumen, pemasok dan mitra di seluruh dunia untuk mendukung pembangunan hijau dan berkelanjutan dalam berbagai sektor industri serta dalam membangun masyarakat rendah karbon".
Sementara itu, Dexter Galvin, Global Director of Corporations and Supply Chains CDP, mengucapkan selamat kepada Huawei untuk kinerjanya yang luar biasa, "Transparansi dalam isu lingkungan adalah langkah pertama yang penting menuju masa depan tanpa emisi karbon dan alam yang positif. Di tengah kondisi lingkungan global yang semakin meprihatinkan – mulai dari cuaca ekstrim hingga kerusakan alam yang belum pernah terjadi sebelumnya – perubahan yang transformasional, mendesak dan kolaboratif makin diperlukan, lebih dari sebelumnya," ucapnya.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!